google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Waspada Lonjakan Harga Beras, Efek El Nino Mulai Hantam Sumut

Advertisement

Waspada Lonjakan Harga Beras, Efek El Nino Mulai Hantam Sumut

28 April 2026

Ilustrasi.

ANTARAsatu.com | MEDAN - Di tengah tren penurunan harga sejumlah komoditas pangan, ancaman baru mulai mengintai stabilitas inflasi di Sumut. Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin memberi peringatan dini terkait potensi lonjakan harga beras yang dipicu oleh berakhirnya masa panen raya dan dampak fenomena El Nino.

Berdasarkan pemantauannya terkini, meski harga beras saat ini menunjukkan kenaikan yang masih relatif tipis, tetapi fondasi harga di tingkat hulu sudah menunjukkan ketegangan. Gunawan mencatat harga Gabah Kering Giling (GKG) saat ini sudah bertengger di atas level Rp8.000 per kg.

"Pemerintah harus memantau serius perkembangan harga beras. Ada potensi besar harga melanjutkan tren kenaikan karena musim panen padi di wilayah Sumut sudah terlewati, ditambah lagi dengan gangguan cuaca El Nino yang mulai mengancam produktivitas," ungkapnya, Selasa (28/4).

Kontras dengan beras, harga daging ayam justru mengalami koreksi tajam. Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam di pasar tradisional Medan, seperti Pasar Brayan, anjlok 13,75% dari Rp40.000 menjadi Rp34.500 per kg.

Penurunan ini menurut dia dipicu oleh lonjakan pasokan (oversupply) di pasar. Gunawan menghitung, kenaikan pasokan daging ayam dalam dua pekan terakhir melonjak dari 30% pada pekan sebelumnya menjadi tambahan 34% di pekan ini.

Penurunan harga didominasi oleh melimpahnya stok ayam potong ukuran kecil di pasar. Harga minyak goreng curah juga mulai melandai seiring dengan terkoreksinya harga bahan baku global.

Harga Crude Palm Oil (CPO) di bursa Malaysia terpantau turun dari kisaran 4.800 menjadi sekitar 4.534 ringgit per ton. Hal ini berdampak pada penurunan harga minyak goreng curah di pasar lokal, seperti Pasar Sukaramai, sekitar Rp500 per kg.

Namun Gunawan melihat meski harga CPO terkoreksi, tetapi posisinya masih bertahan kuat di atas level 4.000 ringgit per ton. Ketahanan harga CPO ini sangat dipengaruhi oleh meroketnya harga minyak mentah dunia yang kini menyentuh level US$109 per barel akibat ketegangan geopolitik.

"Penurunan harga minyak goreng belakangan ini sempat tertahan oleh kenaikan harga plastik kemasan yang terjadi secara serentak. Ini menjadi beban tambahan bagi rantai distribusi," tambah Gunawan.

Dengan kondisi harga daging ayam dan minyak goreng turun, Sumut memiliki bantalan untuk menjaga inflasi tetap rendah di bulan ini. Namun Gunawan mengingatkan, kenaikan harga beras dan plastik bisa menjadi "bom waktu" jika tidak segera dimitigasi.

TPID Sumut diharapkannya melakukan langkah antisipatif sebelum stok beras di tingkat penggilingan semakin menipis. Intervensi pasar melalui stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dinilai mendesak untuk memastikan kenaikan tipis saat ini tidak berubah menjadi lonjakan liar di bulan Juni mendatang.