Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai gagal keluar dari tekanan pada perdagangan Rabu (22/4). Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% belum cukup ampuh meredam aksi jual di pasar modal domestik.
IHSG ditutup melemah 0,24% ke posisi 7.541,612. Sepanjang jam perdagangan, indeks sebenarnya sempat mencoba bangkit hingga menyentuh level tertinggi di 7.578, tetapi derasnya tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) memaksa indeks parkir di zona merah.
Data perdagangan menunjukkan sejumlah emiten kelas berat menjadi pemberat utama (laggard) pergerakan indeks hari ini. Saham-saham seperti BBRI, BBCA, TLKM, PTRO, BNBR, hingga BRPT terpantau kompak melemah dan menyeret IHSG ke bawah teritori positif.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai pelemahan IHSG dan juga Rupiah saat ini lebih didominasi oleh faktor eksternal yang penuh ketidakpastian. Keputusan BI mempertahankan bunga acuan dianggap sudah sesuai ekspektasi pasar sehingga dampaknya menjadi minimal (priced-in).
"Pasar saat ini sedang mengalami kebingungan arah akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah. Perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran yang tanpa batas waktu justru memicu spekulasi baru mengenai stabilitas jangka panjang," ungkapnya, di Medan.
Menurut Gunawan, berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan sebelumnya meninggalkan lubang ketidakpastian bagi investor global. Hal ini diperparah dengan posisi nilai tukar Rupiah yang kian tertekan.
Setali tiga uang dengan bursa saham, nilai tukar Rupiah juga babak belur. Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.170 per dolar AS. Bahkan sempat menyentuh titik nadir di posisi Rp17.185 per dolar AS.
Gunawan menambahkan, selain tekanan pada mata uang, investor juga mengawasi pergerakan harga minyak mentah yang mulai mendekati level psikologis US$ 100 per barel. Menurut dia, kenaikan harga minyak adalah representasi nyata dari respon pasar terhadap dinamika di Timur Tengah.
"Jika harga minyak menembus US$ 100 saat pasar AS dibuka nanti, ini akan menjadi beban tambahan bagi neraca perdagangan kita dan menekan emiten-emiten yang sensitif terhadap biaya energi," jelasnya.
Di tengah gejolak pasar saham dan valas, harga emas dunia terpantau masih stabil di kisaran US$ 4.757 per ons troy atau sekitar Rp 2,63 juta per gram. Minimnya sentimen baru di pasar komoditas logam mulia membuat emas bergerak dalam rentang terbatas.
Namun bagi investor domestik, Gunawan mengingatkan volatilitas pasar saham kemungkinan masih akan tinggi dalam beberapa hari ke depan. Selama tensi geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi yang permanen.
