Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Tekanan hebat melanda pasar keuangan domestik pada perdagangan Selasa (28/4). Mata uang Rupiah kembali menunjukkan performa lesu dan terpaksa ditutup melemah ke level Rp17.210 per US Dolar.
Kondisi ini memperparah sentimen negatif di pasar modal yang juga menyeret IHSG jatuh ke zona merah.
Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai pelemahan Rupiah saat ini sudah berada dalam fase yang mengkhawatirkan.
"Sepanjang sesi perdagangan, nilai tukar bahkan sempat menyentuh titik terendah di level Rp17.245 per US Dolar," ungkapnya, di Medan.
Menurut dia, Rupiah tertekan oleh kombinasi maut global. Yakni kenaikan harga minyak mentah dan penguatan tajam US Dollar Index (DXY) serta lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun.
'Amukan' dolar ini dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga ketat yang masih berlanjut di Amerika Serikat.
Gunawan mencatat bahwa akar masalah penguatan US Dolar saat ini tidak terlepas dari memburuknya tensi geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik tersebut telah mendorong harga minyak mentah dunia meroket ke kisaran US$111 per barel.
Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi global yang kembali memanas. Akibatnya, investor cenderung mengalihkan aset mereka ke dalam mata uang safe haven seperti US Dolar.
Kondisi ini juga secara otomatis menekan harga emas dunia yang kini terkoreksi ke level US$4.617 per ons troy, atau setara dengan Rp2,56 juta per gram.
"Ada korelasi negatif yang sangat kuat. Imbas kenaikan harga minyak ke US$111 per barel langsung memicu koreksi pada harga emas karena investor lebih memilih memegang Dolar atau masuk ke pasar obligasi AS yang yieldnya terus naik," kata Gunawan.
Dia juga menilai efek domino dari pelemahan Rupiah ini menghantam kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski sempat menguat meyakinkan di sesi pembukaan, IHSG akhirnya berbalik arah (u-turn) dan ditutup melemah 0,48% di level 7.082,39.
Indeks sempat bergerak fluktuatif dalam rentang 7.032 hingga 7.051. Sejumlah saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang menjadi motor pelemahan di antaranya ANTM (PT Aneka Tambang Tbk), TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk), ASII (PT Astra International Tbk), ADRO (PT Adaro Energy Indonesia Tbk) dan INCO (PT Vale Indonesia Tbk).
Menurut Gunawan, pelaku pasar harus mewaspadai jika Rupiah terus bertahan di atas level psikologis Rp17.000 dalam jangka panjang. Hal ini akan meningkatkan beban impor bagi emiten-emiten yang memiliki eksposur utang valas tinggi atau ketergantungan pada bahan baku luar negeri.
"IHSG mendapat tekanan ganda, baik dari sentimen pelemahan bursa saham di regional Asia maupun tekanan internal dari kurs Rupiah. Selama tensi di Timur Tengah belum mereda, volatilitas di pasar keuangan dan komoditas akan tetap tinggi," tutupnya.
