Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Tekanan inflasi di Sumut diprediksi akan kembali memanas pada periode April-Mei 2026. Meski sejumlah komoditas pangan sempat menunjukkan tren melandai, kenaikan harga bahan baku plastik mulai merembet ke produk kebutuhan rumah tangga dan mengancam daya beli konsumen.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin memerkirakan laju inflasi bulanan (month-to-month) di Sumut berpotensi menyentuh angka 0,12%. Namun, ia juga melihat adanya deviasi harga yang lebar di lapangan yang membuka peluang tipis bagi terjadinya deflasi sebesar 0,07%.
"Peluang inflasi terbuka lebar jika pencacahan harga di lapangan lebih banyak memasukkan komoditas harian yang terdampak langsung oleh harga plastik," ungkapnya, Senin (27/4).
Menurut dia, kenaikan harga plastik global mulai berdampak pada harga jual produk manufaktur. Berdasarkan pantauannya di pasar domestik Sumut, kenaikan harga mulai terlihat pada produk-produk yang menggunakan kemasan plastik cair, seperti shampo dan sabun mandi cair, sabun cuci/cair (deterjen) dan pewangi pakaian.
Meski demikian, Gunawan mencatat bahwa transmisi harga ini belum merata. Beberapa produsen masih memilih untuk menahan harga untuk menjaga pangsa pasar sehingga menciptakan variasi harga yang cukup kontras antara satu merek dengan merek lain.
Di sisi lain, sektor pangan menunjukkan pergerakan yang variatif. Komoditas seperti telur ayam, bawang merah dan minyak goreng curah tercatat mengalami kenaikan secara bulanan.
Namun, kenaikan ini tertahan oleh penurunan signifikan pada sejumlah komoditas kunci lain. Seperti cabai rawit yang turun 26%, cabai merah turun 21%, daging ayam turun 6,6% dan bawang putih turun 2%.
Penurunan harga pada kelompok volatile foods inilah yang menjadi penyeimbang sehingga tekanan inflasi tidak meledak seketika di bulan April ini. Namun Gunawan menggarisbawahi bahwa stabilitas harga saat ini bersifat semu.
Produsen dan pedagang dinilainya masih menahan beban biaya operasional akibat kenaikan harga input produksi. Karena itu pemerintah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diharapkannya tidak berpuas diri dengan capaian deflasi sesaat.
"Ada potensi ledakan inflasi di bulan Juni mendatang," ujarnya.
Salah satu faktor risiko yang harus dimitigasi oleh para stakeholder terkait menurut dia adalah eskalasi perang Iran dengan AS dan Israel yang memicu kenaikan biaya logistik global. Kemudian gangguan cuaca "Godzilla El Nino" yang dapat menekan produktivitas pertanian.
"Lalu lompatan harga plastik dan komponen industri lain yang sudah tidak sanggup lagi ditahan oleh produsen," pungkasnya.
