Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Kinerja pasar keuangan domestik kembali menunjukkan anomali di tengah dinamika global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,32% meski sempat dibuka menguat dan menyentuh level tertinggi di kisaran 7.230 pada sesi perdagangan Senin (27/4).
Pelemahan IHSG ini terjadi ketika mayoritas bursa saham di kawasan Asia justru bergerak di zona hijau. Kondisi tersebut menegaskan adanya tekanan spesifik yang membayangi pasar domestik, terutama dari sentimen eksternal yang belum mereda.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik menjadi faktor utama yang menahan laju IHSG.
“Pasar masih mencermati potensi gagalnya negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat. Ini memicu kekhawatiran bahwa tensi geopolitik bisa kembali memburuk dalam waktu dekat,” ujar Gunawan, di Medan, Senin (27/4).
Sejumlah saham berkapitalisasi besar tercatat menjadi penekan utama IHSG. Di antaranya saham sektor perbankan seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, serta saham energi dan industri seperti ENRG dan BRPT.
Menurut Gunawan, tekanan terhadap saham-saham big caps ini menunjukkan bahwa investor cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) sekaligus mengurangi eksposur risiko di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah justru menunjukkan arah berbeda. Rupiah berhasil menguat tipis ke level 17.185 per dolar AS pada penutupan perdagangan, setelah sempat melemah hingga 17.235 pada sesi awal.
Penguatan rupiah ini dinilai tidak lepas dari melemahnya indeks dolar AS (USD Index) yang turun ke level 98,3. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
“Rupiah mendapatkan sentimen positif dari pelemahan dolar AS. Ini menjadi penyeimbang di tengah tekanan yang terjadi di pasar saham,” jelas Gunawan.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia masih bertahan tinggi di kisaran US$107 per barel. Stabilnya harga minyak di level tinggi mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik yang belum menemukan titik terang.
Di pasar komoditas lainnya, harga emas dunia tercatat naik tipis ke level US$4.707 per ons troy atau sekitar Rp2,61 juta per gram. Kenaikan yang terbatas ini mencerminkan sikap pelaku pasar yang cenderung menunggu kepastian arah pasar global.
Gunawan menambahkan, selama negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat masih diliputi ketidakpastian, volatilitas pasar keuangan diperkirakan akan tetap tinggi.
“Pelaku pasar saat ini cenderung mengambil posisi wait and see. IHSG berpotensi tetap tertekan, sementara rupiah masih berpeluang stabil selama dolar AS tidak kembali menguat signifikan,” ujarnya.
Ke depan, arah pasar domestik akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik global, terutama terkait negosiasi di Timur Tengah, serta respons kebijakan moneter global yang dapat memengaruhi aliran modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
