Polisi menunjukkan barang bukti dan pelaku hasil penindakan di Jalan Setiabudi, Medan.
ANTARASATU.COM | Medan - Polrestabes Medan menyita 450 pod getar yang diduga merupakan narkotika dari seorang pria berinisial RS, 31. Penangkapan dilakukan setelah polisi mengejar mobil yang dikendarai RS sejauh sekitar 5 kilometer.
Dari 450 pod getar yang disita, sebanyak 320 pod bermerek King dan 130 pod bermerek Wukong. Polisi juga menyita sejumlah mata uang asing, yakni Malaysia, Singapura, China dan Mesir.
Kasat Narkoba Polrestabes Medan AKBP Rafli Yusuf Nugraha mengatakan, pengungkapan kasus ini bermula dari informasi mengenai sebuah mobil yang diduga membawa narkoba dalam jumlah besar di kawasan Ngumban Surbakti, Medan.
Polisi kemudian melakukan pengintaian terhadap kendaraan tersebut. Namun, RS yang menyadari pergerakannya diketahui petugas langsung melarikan diri.
"Karena pelaku merasa curiga, ia sempat kabur dan terlibat kejar-kejaran dengan petugas kita sejauh 5 KM," ujar Rafli, Kamis (8/10).
Petugas akhirnya berhasil menghentikan mobil tersebut di kawasan Jalan Setiabudi, Medan. RS, warga Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, kemudian diamankan.
Dari penggeledahan, polisi menemukan ratusan pod getar (perangkat rokok elektrik/vape berjenis pod yang dilengkapi dengan fitur haptic feedback atau getaran) di kursi tengah mobil yang dikendarai RS.
"Narkoba kami temukan di kursi tengah mobil yang dikemudikan pelaku, totalnya 450 pcs. Di antaranya 320 pod getar merek King dan 130 pod getar merek Wukong," kata Rafli.
Menurut dia, RS mengaku baru pertama kali menjadi kurir narkoba. Meski demikian, polisi menduga RS merupakan bagian dari jaringan narkoba Malaysia-Indonesia.
Dugaan itu berdasarkan data perjalanan RS yang menunjukkan dirinya beberapa kali bepergian dari Medan ke Malaysia dalam satu bulan terakhir.
"Pelaku ini bolak-balik Indonesia-Malaysia, kita dugaan yang bersangkutan masuk dalam jaringan utama," ungkap Rafli.
Polisi juga menduga RS berupaya menghilangkan jejak komunikasi. Saat ditangkap, RS langsung merusak telepon selulernya.
Polrestabes Medan kini masih mengejar pemasok dan pengendali jaringan ini yang diduga berada di Malaysia.
