google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Gandeng Dua Mitra, PGN Ubah Limbah Sawit Sumsel Jadi Energi

Advertisement

Gandeng Dua Mitra, PGN Ubah Limbah Sawit Sumsel Jadi Energi

07 Oktober 2026


ANTARASATU.COM | Limbah pabrik kelapa sawit selama ini identik dengan persoalan lingkungan. Namun di Sumatera Selatan, limbah tersebut dilihat sebagai sumber energi baru.

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menggandeng Toyota Tsusho Indonesia (TTI) dan PT KIS Biofuels Indonesia (KIS) untuk mengembangkan biomethane dari limbah industri kelapa sawit.

Langkah itu ditandai dengan groundbreaking fasilitas biomethane plant yang dikembangkan TTI dan KIS pada Senin (5/10). Fasilitas yang berada di Sumatra Selatan ini ditargetkan mampu menghasilkan biomethane sekitar 150.000 MMBTU per tahun.

Proyek tersebut memanfaatkan limbah organik, terutama limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME), sebagai bahan baku. Melalui proses pengolahan, kandungan metana dari limbah ditangkap dan dimurnikan untuk kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Pengembangan fasilitas ini menjadi salah satu langkah awal pemanfaatan biomethane di Sumatra, wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi kelapa sawit Indonesia. Bagi PGN, proyek itu juga menjadi kelanjutan dari kerja sama dengan TTI yang telah dimulai melalui penandatanganan memorandum of understanding (MoU) pengembangan biomethane di Indonesia pada 2022.

Dalam kerja sama tersebut PGN mengambil peran sebagai offtaker atau pembeli utama biomethane yang dihasilkan. PGN juga bertindak sebagai transporter dengan memanfaatkan jaringan pipa yang telah dimilikinya.

Biomethane akan diproduksi oleh PT KIS Toyota Tsusho Biomethane Indonesia (KTBI), perusahaan patungan KIS dan TTI. Setelah diproduksi, gas terbarukan ini akan disalurkan melalui jaringan pipa PGN menuju Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan pelanggan industri lain.

Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan, pengembangan fasilitas biomethane ini merupakan langkah penting untuk membawa sumber energi terbarukan dari dalam negeri ke dalam rantai pasok energi nasional.

"Kami mengapresiasi TTI dan KIS yang telah memulai pembangunan fasilitas biomethane ini. Bagi PGN, ini adalah langkah penting untuk menghadirkan gas terbarukan dari sumber domestik ke dalam rantai pasok energi nasional," kata Fajriyah dalam keterangan tertulis yang diterima di Medan, Selasa (6/10).

Menurut dia, PGN siap mendukung pengembangan biomethane melalui infrastruktur dan kemampuan niaga yang dimiliki perusahaan. Dengan begitu, energi yang dihasilkan dari limbah sawit dapat dimanfaatkan oleh sektor industri.

Salah satu keunggulan biomethane adalah penggunaannya yang relatif mudah diintegrasikan dengan infrastruktur gas yang sudah tersedia. Infrastruktur yang digunakan untuk biomethane pada dasarnya dapat memanfaatkan jaringan yang sebelumnya digunakan untuk menyalurkan gas bumi.

Kondisi itu memungkinkan pelanggan industri beralih menggunakan biomethane tanpa harus melakukan perubahan besar pada fasilitas yang sudah ada. Modifikasi yang diperlukan dapat dilakukan secara minimal sesuai kebutuhan.

Bagi industri, keberadaan biomethane juga membuka pilihan baru di tengah tuntutan pengurangan emisi. Kebutuhan terhadap energi rendah karbon semakin meningkat seiring dengan upaya berbagai sektor industri menekan jejak emisi dalam rantai produksinya.

Di sisi lain, pemanfaatan POME membuat proyek ini tidak sekadar berbicara soal energi. Limbah yang sebelumnya berpotensi menghasilkan emisi metana ke atmosfer dapat ditangkap dan diolah menjadi bahan bakar.

Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki dampak signifikan terhadap pemanasan global. Dengan menangkap gas ini dan mengubahnya menjadi energi, pemanfaatan POME berpotensi memberi manfaat ganda, yakni mengurangi emisi sekaligus menghasilkan sumber energi yang memiliki nilai ekonomi.

Proyek tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya hilirisasi industri kelapa sawit. Limbah yang selama ini menjadi produk samping pengolahan sawit diolah menjadi komoditas energi baru.

Bagi PGN, pengembangan biomethane juga memiliki kaitan dengan kebutuhan energi domestik dalam jangka panjang. Penggunaan gas bumi di sektor industri terus berkembang, sementara agenda dekarbonisasi mendorong kebutuhan terhadap sumber energi yang lebih rendah karbon.

Fajriyah mengatakan, biomethane dapat menjadi salah satu pelengkap gas bumi sekaligus mendukung agenda swasembada energi dan dekarbonisasi industri.

"Ketika biomethane ini mulai berproduksi, industri seperti TMMIN akan memiliki akses terhadap energi rendah karbon yang mendukung daya saing di tengah tuntutan rantai pasok hijau global," ujarnya.

Ia berharap model kolaborasi yang dikembangkan bersama TTI dan KIS dapat diterapkan di daerah lain yang menjadi sentra produksi kelapa sawit.

PGN pun berencana terus memperluas kolaborasi dengan berbagai mitra untuk mengembangkan bisnis rendah karbon, termasuk biomethane. Langkah itu menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transisi menuju sistem energi yang lebih rendah emisi.

Jika proyek di Sumatera Selatan berjalan sesuai harapan, limbah sawit tidak lagi sekadar dipandang sebagai sisa produksi. Dari sana, energi baru dapat mengalir ke jaringan pipa dan masuk ke rantai pasok industri.