ANTARAsatu.com | MEDAN - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dinilai hanya mampu meredam tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek. Penguatan mata uang domestik dinilai tidak akan bertahan lama jika tidak didukung kebijakan fiskal yang kredibel dan hati-hati.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan penguatan rupiah pasca-kenaikan BI Rate menunjukkan kebijakan moneter masih efektif meredam gejolak pasar. Namun, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak berasal dari faktor eksternal yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan instrumen suku bunga.
"Kalau penguatan rupiah hanya mengandalkan kebijakan moneter tanpa dibarengi kebijakan fiskal yang terukur dan prudent, maka penguatan rupiah tidak akan bertahan lama," ungkapnya, Kamis (18/6).
Dalam Rapat Dewan Gubernur, BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75%. Setelah keputusan itu diumumkan, rupiah yang sempat melemah hingga Rp17.850 per dolar AS berbalik menguat dan ditutup di level Rp17.700 per dolar AS.
Meski demikian, Gunawan menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Menurut dia, pasar saat ini menghadapi sejumlah risiko eksternal, mulai dari kebijakan moneter bank sentral negara lain, dinamika geopolitik global, hingga hasil penilaian lembaga pemeringkat internasional.
Ia mencontohkan langkah hawkish sejumlah bank sentral dunia. Seperti Bank Sentral Jepang yang menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir serta kebijakan ketat yang masih dipertahankan Bank Sentral AS atau The Fed.
Kondisi ini memicu persaingan antarnegara dalam menarik likuiditas global melalui kenaikan imbal hasil surat utang dan instrumen keuangan lainnya.
"Terjadi perebutan likuiditas global. Setiap negara berlomba menarik dana masuk sehingga rupiah masih sangat dinamis dan tetap terbuka untuk melemah," ujarnya.
Selain faktor eksternal, Gunawan menilai kondisi fiskal dalam negeri juga menjadi perhatian investor. Menurut dia, berbagai isu fiskal yang belakangan menjadi sorotan dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap aset-aset Indonesia.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menunggu hasil peninjauan indeks oleh MSCI. Gunawan mengatakan pasar masih mengkhawatirkan skenario terburuk yang dapat memicu tekanan pada pasar saham maupun nilai tukar rupiah.
"Hasil review MSCI masih menjadi faktor yang membuat pelaku pasar berhati-hati. Jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi, tekanan ke pasar keuangan bisa meningkat," katanya.
Pada perdagangan Kamis (18/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,78% ke level 6.172,34. Padahal, indeks sempat memangkas pelemahan setelah BI mengumumkan kenaikan suku bunga.
Menurut Gunawan, pasar saham gagal mengikuti penguatan rupiah karena investor masih menunggu sejumlah sentimen penting. Termasuk hasil evaluasi MSCI dan arah kebijakan The Fed.
Sementara itu, harga emas dunia tercatat melemah ke kisaran US$4.265 per ons troi atau sekitar Rp2,46 juta per gram. Meski demikian, pasar masih melihat peluang kenaikan harga emas dalam jangka menengah seiring berlanjutnya akumulasi cadangan emas oleh sejumlah bank sentral dunia.
