google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 MBG: BERKAH ATAU BEBAN BAGI RAKYAT?

Advertisement

MBG: BERKAH ATAU BEBAN BAGI RAKYAT?

Editor: Dyan Putra
12 Agustus 2026

Ilustrasi dapur SPPG
ANTARAsatu.com | Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026, beroperasinya kembali Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG pascalibur sekolah memicu kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam di 188 kabupaten/kota.

Ketika dapur umum membeli bahan baku dalam jumlah besar langsung dari pasar lokal, pasokan untuk pedagang eceran menyusut sehingga masyarakat umum harus membayar harga yang jauh lebih mahal.

Bukan hanya daging ayam, dampak peningkatan kebutuhan logistik dapur MBG pascalibur sekolah memicu pergeseran harga pada beberapa komoditas pokok di pasar tradisional Sumatra Utara. dampak peningkatan kebutuhan logistik dapur MBG pascalibur sekolah memicu pergeseran harga pada beberapa komoditas pokok di pasar tradisional Sumatra Utara.

Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) serta data dinas pangan daerah per Agustus 2026, komoditas pokok di pasar tradisional Sumatra Utara yang ikut mengalami lonjakan ekstrem adalah Cabai Rawit Merah, Cabai Merah Keriting, Bawang Merah & Putih, dan Beras Kualitas Medium.

Bagaimana solusinya?

Pemerintah harus mewajibkan pengelola SPPG membeli daging ayam dan telur langsung dari peternak besar melalui kontrak jangka panjang, bukan membeli dari pasar tradisional.

Badan Gizi Nasional (BGN) harus konsisten melarang penggunaan barang subsidi (seperti LPG 3kg dan MinyaKita dan lainnya), serta mengoptimalkan pangan lokal (seperti ikan di wilayah pesisir).

MBG akan menjadi berkah jika Badan Gizi Nasional (BGN) konsisten menerapkan juknis secara ketat. Sebaliknya, jika manajemen logistiknya lemah dan membiarkan dapur umum "berebut" bahan pangan dengan ibu rumah tangga di pasar tradisional, program ini berisiko menjadi beban tambahan yang menyusahkan rakyat kecil secara langsung.

Naskah oleh: Basuki