ANTARAsatu.com | MEDAN - Deretan bangunan tua di kawasan Kesawan, Medan, perlahan mulai menemukan denyut baru. Di tengah geliat revitalisasi Kota Lama, satu bangunan kolonial kembali mencuri perhatian, Gedung Warenhuis.
Bangunan bercat putih dengan arsitektur khas Eropa itu berdiri sejak lebih dari satu abad lalu. Dahulu, Warenhuis dikenal sebagai supermarket pertama di Medan bahkan di Pulau Sumatra.
Kini, gedung yang dibangun pada 1916 dan diresmikan pada 1919 tersebut disiapkan menjadi pusat ekonomi kreatif dan ruang baru bagi anak muda.
Perhatian terhadap Warenhuis kembali menguat setelah Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, diajak meninjau langsung gedung bersejarah itu oleh Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, Kamis (7/5).
Bukan tanpa alasan Pemkot Medan mengajak Raffi Ahmad. Sosok selebritas sekaligus pengusaha itu dinilai memiliki pengaruh besar dalam mempromosikan potensi wisata dan investasi kreatif kepada generasi muda.
“Seharian ini kita ajak Aa Raffi mulai dari kuliner hingga ke salah satu ikon Kota Medan yang baru selesai direnovasi, yaitu Warenhuis. Mudah-mudahan Aa Raffi juga tertarik untuk berinvestasi dan ikut memasarkan Medan sebagai destinasi wisata,” kata Zakiyuddin.
Bagi Pemkot Medan, revitalisasi Warenhuis bukan sekadar mempercantik bangunan tua. Gedung tersebut diproyeksikan menjadi simpul baru ekonomi kreatif di kawasan Kota Lama Kesawan.
Bangunan yang dulu menjadi simbol kejayaan ekonomi Medan pada masa kolonial itu kini dipoles menjadi ruang multifungsi. Pemerintah membayangkan Warenhuis dapat diisi galeri seni, ruang pamer kreatif, pusat UMKM, hingga kafe dan restoran tematik yang menyasar wisatawan muda.
Raffi Ahmad pun mengaku terpukau melihat langsung kondisi bangunan tersebut. Menurut dia, nilai sebuah bangunan heritage tidak bisa diukur hanya dari sisi ekonomi.
“Saya sangat terpukau melihat Warenhuis. Heritage itu punya nilai yang tidak bisa kita bayar dengan apa pun, karena di situ ada cerita sejarahnya,” ujar Raffi.
Suami Nagita Slavina itu menilai keberhasilan bangunan bersejarah bertahan di tengah perkembangan zaman terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan konsep kekinian tanpa menghilangkan identitas lama.
“Jangan semua yang modern selalu dibangun baru. Justru tempat heritage seperti ini bagaimana bisa kita bawa ke lintas generasi supaya anak muda memahami dan menghargai sejarahnya,” katanya.
Menurut Raffi, Medan memiliki potensi besar dalam industri kreatif. Dia bahkan menyinggung kesuksesan film "Agak Laen" sebagai bukti bahwa identitas lokal Sumatra Utara mampu diterima pasar nasional.
Karena itu, dia mendorong anak muda Medan lebih berani membangun kolaborasi lintas sektor agar ekosistem kreatif tumbuh lebih kuat.
“Medan ini sudah ramai, kita bikin tambah ramai lagi. Ayo kita kolaborasi, bangun ekosistem kreatif, dan dorong ekonomi anak muda,” ujar Raffi.
Gedung Warenhuis sendiri memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Kota Medan. Bangunan ini dirancang arsitek Belanda-Jerman dan diresmikan oleh Wali Kota Medan pertama, Daniel Baron Mackay.
Pada masanya, Warenhuis menjadi simbol modernitas kota perkebunan yang sedang tumbuh pesat. Kini, setelah direvitalisasi pada 2025, gedung itu diharapkan tidak hanya menjadi simbol pelestarian sejarah.
Namun juga mesin baru penggerak wisata dan ekonomi kreatif Kota Medan.
