ANTARAsatu.com | MEDAN - Memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz diperkirakan masih akan menekan pasar keuangan domestik dalam waktu dekat. Ketidakpastian geopolitik global dinilai memicu volatilitas tinggi pada nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, sentimen pasar berubah cepat setelah sehari sebelumnya investor sempat merespons positif kabar rencana perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat.
“Namun pada perdagangan hari ini, realitanya justru berbanding terbalik karena Iran dan AS saling serang di Selat Hormuz. Kondisi ini membuat pasar keuangan kembali mengalami tekanan,” kata Gunawan, Jumat (8/5).
Nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp17.360 per dolar Amerika Serikat setelah sempat terpuruk hingga Rp17.390 per dolar AS. Menurut Gunawan, pelemahan rupiah kali ini terjadi di tengah indeks dolar AS atau USD Index yang justru melemah ke kisaran 97,9.
Di sisi lain, IHSG juga ditutup turun 2,86% ke level 6.969,396. Sepanjang perdagangan, sebanyak 575 saham tercatat melemah, 133 saham menguat dan 108 saham stagnan.
Sejumlah saham yang mengalami tekanan di antaranya BMRI, BBCA, BBRI, BUMI, TINS, AMMN, BRMS, INCO, hingga ANTM. Sektor pertambangan menjadi kelompok saham yang mengalami koreksi terdalam pada perdagangan hari ini.
Gunawan mengatakan tekanan terhadap saham pertambangan dipicu rencana pemerintah menerapkan pajak baru untuk sektor batu bara dan nikel. Sentimen tersebut membuat pelaku pasar cenderung melepas saham-saham berbasis komoditas.
Sementara itu, harga emas dunia tercatat relatif stabil di level US$4.713 per ons troy atau sekitar Rp2,64 juta per gram. Menurut Gunawan, emas masih menjadi aset aman yang diburu investor di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Ia memperkirakan pasar keuangan domestik masih akan bergerak fluktuatif selama tensi konflik di Timur Tengah belum mereda. Investor, kata dia, kini cenderung bersikap lebih hati-hati sambil menunggu perkembangan situasi global.
“Pasar secara keseluruhan masih dihantui dinamika geopolitik yang tidak menentu. Ini yang membuat volatilitas di pasar keuangan menjadi sangat liar,” ujar Gunawan.
