Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Melambungnya harga pupuk belakangan ini memicu kekhawatiran besar di kalangan petani sawit. Kenaikan biaya perawatan dikhawatirkan bakal membuat kebun sawit rakyat telantar.
Namun, anomali pasar keuangan justru memberi napas lega bagi sektor komoditas andalan Indonesia ini. Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, meski harga pupuk meroket, pendapatan petani sebenarnya masih terjaga berkat pelemahan nilai tukar Rupiah.
"Pada perdagangan hari ini, Rupiah terpantau menembus level Rp17.400 per US Dolar," ungkapnya, Selasa (5/5).
Pelemahan Rupiah ini, kata dia, secara mekanis mendorong geliat ekspor minyak olahan sawit (CPO). Pendapatan eksportir meningkat dan hal ini berdampak langsung pada harga Tandan Buah Segar (TBS) di level petani yang tetap bertahan mahal.
"Bahkan (harga TBS) merangkak naik ke level Rp3.000-an per kilogram," imbuhnya.
Menurut Gunawan, kenaikan harga TBS ini secara otomatis seperti mengkompensasi lonjakan biaya input produksi, terutama pupuk. Dengan harga jual sawit yang tinggi, petani masih memiliki margin untuk tetap merawat tanaman mereka tanpa harus mengorbankan produktivitas.
Selain faktor kurs, kepastian stok juga menjadi kunci. Pemerintah telah memastikan bahwa pasokan pupuk di lapangan memadai untuk kebutuhan nasional.
Kepastian ini meredam isu kelangkaan yang sempat mencuat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran, Israel dan Amerika Serikat.
"Isu kelangkaan pupuk sempat mengemuka karena ketegangan global, tetapi sejauh ini pasokan tetap terjamin. Kepastian suplai inilah yang menjamin keberlangsungan produktivitas sawit dalam jangka panjang," terangnya.
Dari sisi permintaan, Gunawan mencatat bahwa pasar utama seperti China dan India tidak mengalami gangguan serius meskipun geopolitik sedang memanas. Kekhawatiran mengenai penurunan permintaan akibat gangguan jalur distribusi atau pelemahan daya beli global menurutnya sejauh ini belum terbukti.
Meski terdapat ancaman dari fenomena iklim El Nino, lanjut dia, wilayah Sumatra Utara dan Aceh masih memiliki daya tahan lebih baik. Curah hujan di Sumut dan Aceh masih ada sehingga kinerja ekspor sawit dari wilayah ini diproyeksikan tetap stabil hingga akhir 2026.
Walau fundamental saat ini masih kokoh, Gunawan tetap memberi catatan waspada. Dinamika perang yang sulit diproyeksikan berpeluang menciptakan ketidakpastian baru bagi kinerja minyak kelapa sawit di masa depan.
Namun untuk saat ini, kenaikan harga pupuk dinilai belum menjadi ancaman serius bagi produktivitas nasional. Selama harga TBS mampu bertahan di level tinggi akibat dorongan kurs ekspor, sektor sawit masih memiliki bantalan ekonomi yang cukup kuat untuk menghadapi kenaikan biaya perawatan.
