google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Minyak Tembus US$114 per Barel, Harga Emas Anjlok karena Bunga

Advertisement

Minyak Tembus US$114 per Barel, Harga Emas Anjlok karena Bunga

29 April 2026

Ilustrasi.

ANTARAsatu.com | MEDAN - Ketidakpastian ekonomi global kembali mencuat seiring dengan lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran baru terhadap prospek suku bunga. Pada perdagangan Rabu (29/4), harga minyak mentah dunia meroket ke level US$114 per barel, sebuah pergerakan yang langsung memberi tekanan hebat pada aset aman (safe haven).

Kenaikan harga energi ini menjadi momok bagi pelaku pasar karena berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. Kondisi tersebut memaksa pasar untuk berekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan.

"Kenaikan harga minyak hingga US$114 per barel membuat pasar sangat khawatir akan prospek suku bunga yang cenderung naik," ungkap Analis dari UISU, Gunawan Benjamin, di Medan.

Hal ini, jelas dia, secara otomatis menekan harga emas dan memperburuk posisi Rupiah. Imbasnya, harga emas dunia mengalami pelemahan tajam ke level US$4.560 per ons troy, atau berkisar Rp2,54 juta per gram.

Namun di tengah buruknya sentimen global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan perlawanan teknis. Meski sempat tertekan hingga menyentuh level 7.063, mendekati level psikologis 7.000, IHSG berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat 0,41% ke level 7.101,22.

Pergerakan ini, menurut Gunawan, mencerminkan sikap pelaku pasar yang masih terbelah. Utamanya terkait ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.

Sebagian investor optimistis akan adanya perundingan damai dalam waktu dekat. Namun sebagian lain tetap pesimis mengingat rumitnya negosiasi karena kedua belah pihak masih bertahan pada pendirian masing-masing.

Nasib berbeda dialami oleh nilai tukar Rupiah. Mata uang Garuda menjadi instrumen yang paling terbebani oleh lonjakan harga minyak dunia.

Rupiah sempat terpuruk hingga ke level Rp17.330 per dolar AS di tengah sesi perdagangan. Meski berhasil mengurangi kerugian menjelang penutupan, Rupiah tetap berakhir di zona merah pada level Rp17.275 per dolar AS.

"Pelemahan ini sejalan dengan kinerja pasar saham di Asia yang ditutup beragam," kata Gunawan.

Pelaku pasar disarankannya mencermati emiten sektor energi yang diuntungkan oleh kenaikan harga minyak. Namun mewaspadai tekanan jual pada sektor sensitif suku bunga, seperti perbankan dan properti.

Hal itu mengingat ancaman inflasi energi dapat memicu kebijakan moneter yang lebih ketat dari otoritas perbankan.