google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Belawan Bukan Cuma Tawuran, Festival Budaya Islam Bakal Hadirkan Wajah Baru

Advertisement

Belawan Bukan Cuma Tawuran, Festival Budaya Islam Bakal Hadirkan Wajah Baru

09 Mei 2026

Rico Waas saat menemui panitia Festival Budaya Islam, Jumat (8/5).

ANTARAsatu.com | MEDAN - Kawasan Belawan selama ini lebih sering dikenal lewat berita kriminalitas, tawuran, hingga konflik sosial yang berulang. Kawasan pesisir di utara Kota Medan itu pun kerap dilekatkan dengan stigma sebagai wilayah “keras” dan rawan kejahatan.

Namun, di tengah citra negatif yang sudah lama melekat, sekelompok masyarakat mencoba menghadirkan wajah lain Medan Utara. Mereka ingin menunjukkan bahwa Belawan bukan hanya tentang kriminalitas, tetapi juga tentang budaya, religiusitas dan semangat kebersamaan masyarakat pesisir.

Upaya itu pun mendapat dukungan dari Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas. Melalui Festival Budaya Islam yang digagas komunitas Ukhuwah Badan Kemakmuran Masjid (UBKM) Medan Utara, Rico berharap muncul ruang sosial baru yang lebih guyub dan harmonis bagi warga.

“Saya rasa acaranya sangat bagus. Belawan harus siap untuk menyelenggarakan acara-acara besar. Masyarakatnya harus rukun dan guyub. Saya berharap semua prosesnya berjalan lancar,” kata Rico saat menerima kedatangan panitia festival di Rumah Dinas Wali Kota, Jumat (8/5).

Bagi Rico, perubahan citra suatu kawasan tidak cukup dilakukan lewat pembangunan fisik semata. Jalan, jembatan, atau infrastruktur, belum cukup menghapus persepsi negatif jika ruang sosial masyarakat tidak ikut dibangun.

Karena itu, dia melihat kegiatan budaya dan keagamaan sebagai cara lain untuk menghidupkan identitas baru Medan Utara. Terlebih, kegiatan tersebut lahir langsung dari masyarakat setempat.

Ketua Panitia Festival Budaya Islam Johan Arifin mengatakan, agenda itu memang dirancang lebih dari sekadar seremoni tahunan. Menurut dia, festival tersebut merupakan gerakan sosial untuk merangkul generasi muda agar memiliki ruang kreativitas positif.

“Kami ingin membangun citra positif Medan Utara. Melalui Festival Budaya Islam, kami menghadirkan ruang bagi masyarakat dan generasi muda untuk berkarya dan menunjukkan sisi religius kawasan kami,” ujarnya.

Festival akan dimulai pada 26-27 Mei 2026 melalui Festival Beduk di Jalan Stasiun Lapangan PJKA Belawan. Para peserta diwajibkan mengenakan busana tradisional Melayu sebagai simbol penguatan identitas budaya lokal.

Setelah itu, rangkaian kegiatan berlanjut pada 14-16 Juni 2026 dengan Pawai Budaya Muslim, lomba kasidah, hingga Pawai Obor menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram. Panitia juga berencana menghadirkan Das'ad Latif untuk memberi tausiyah kepada masyarakat.

Bagi warga Medan Utara, festival semacam ini bukan hanya soal hiburan. Ada harapan besar agar anak-anak muda memiliki alternatif kegiatan selain berkumpul di lingkungan yang rawan konflik sosial.

Rico pun berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi agenda budaya tahunan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat pesisir. Kehadiran ribuan pengunjung dapat membuka peluang usaha bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM di kawasan Belawan.

Tdak berhenti sebagai acara sesaat, tetapi tumbuh menjadi agenda budaya ikonik yang membangun citra Medan Utara sebagai kawasan yang aktif, kreatif dan religius. Ikhtiar kolektif yang menghadirkan narasi baru tentang kawasan pesisir yang dikenal lewat budaya dan kebersamaan, bukan lagi kriminalitas.