google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Joki Kedokteran Gunakan Ponsel Modifikasi dan KTP Palsu Bobol UTBK

Advertisement

Joki Kedokteran Gunakan Ponsel Modifikasi dan KTP Palsu Bobol UTBK

24 April 2026

Ilustrasi.

ANTARAsatu.com | MAJENE - Pelaksanaan Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) pada Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) diwarnai aksi kecurangan yang terorganisir. Panitia berhasil mengamankan dua orang wanita yang diduga kuat merupakan bagian dari jaringan sindikat perjokian profesional.

Kasus ini mencuat pada hari pertama seleksi, Selasa (21/4), saat proses sterilisasi peserta berlangsung ketat. Kedua terduga joki tersebut terjaring operasi senyap panitia sebelum sempat menginjakkan kaki di ruang ujian.

Pelaksana Tugas (Plt) Wakil Rektor I Unsulbar Tasrif Surungan mengungkapkan, kecurangan ini terdeteksi berkat ketelitian petugas yang menggunakan metal detector. Saat skrining, alat sensor bereaksi terhadap benda logam yang disembunyikan di balik pakaian pelaku.

Setelah diperiksa secara intensif, panitia menemukan perangkat komunikasi yang sekilas tampak usang. Namun telah dimodifikasi secara khusus.

"Panitia menemukan alat bantu dengar yang terhubung dengan ponsel. Tampak sederhana seperti perangkat lama, namun sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga terhubung antara ponsel dan headset kecil di telinga," ujar Tasrif, Rabu (22/4).

Teknologi ini dirancang agar peserta dapat menerima instruksi atau jawaban dari operator di luar ruangan secara real-time saat ujian berlangsung tanpa terlihat secara kasat mata. Bukan tanpa alasan sindikat ini nekat melakukan aksi berisiko tinggi.

Berdasarkan data internal dan temuan di lapangan, Tasrif menyebutkan hampir seluruh upaya perjokian menyasar jurusan dengan tingkat persaingan paling ketat dan biaya pendidikan tinggi.

"Kasus kecurangan yang ditemukan sekitar 99 persen mengarahkan ke pilihan jurusan kedokteran," ungkapnya.

Fenomena ini memperkuat dugaan adanya nilai transaksi yang fantastis di balik jasa joki untuk menembus fakultas kedokteran. Selain perangkat elektronik, panitia juga menemukan kejanggalan pada dokumen administrasi.

Kedua perempuan itu diduga menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu untuk mengelabui verifikasi data peserta. Kecurigaan menguat karena KTP yang mereka bawa tercatat baru diterbitkan pada April 2026.

"Diduga memang KTP palsu, boleh jadi yang bersangkutan bukan pemilik asli identitas tersebut," tambah Tasrif.

Untuk memutus rantai sindikat ini, pihak Unsulbar tidak tinggal diam. Kedua pelaku beserta barang bukti berupa ponsel modifikasi dan dokumen palsu telah diserahkan ke pihak kepolisian untuk diproses secara hukum.

Manajemen Unsulbar mendesak aparat penegak hukum untuk melakukan pendalaman mendalam. Mengingat pola yang digunakan mengindikasikan kerja jaringan profesional, bukan sekadar inisiatif individu.

"Agar memberikan efek jera dan menjaga integritas seleksi nasional," pungkasnya.