google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Harga Sawit Meroket tapi Banderol Pupuk Cekik Petani

Advertisement

Harga Sawit Meroket tapi Banderol Pupuk Cekik Petani

17 April 2026

 

Ilustrasi.

ANTARAsatu.com | MEDAN - Di atas kertas, kehidupan petani kelapa sawit saat ini tampak sedang berada di atas angin. Harga Tanda Buah Segar (TBS) meroket hingga menembus angka psikologis Rp 3.000 per kilogram.

Kenaikan ini seirama dengan reli harga Crude Palm Oil (CPO) dunia yang sempat menyentuh level 4.840-an ringgit per ton pada awal bulan ini.
Namun, di balik kegembiraan angka-angka tersebut, ada jeritan yang nyaris tak terdengar dari balik rimbun kebun sawit.

Keuntungan yang seharusnya masuk ke kantong petani justru tersedot habis oleh lonjakan biaya produksi yang ugal-ugalan. Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini bertengger di atas Rp 17.100 per US Dolar sebenarnya menjadi "bonus" bagi korporasi dan eksportir hulu-hilir. Pendapatan ekspor meningkat tajam.

Sayangnya, bagi petani swadaya, mata uang Garuda yang loyo ini justru menjadi belati bermata dua. Penyebab utamanya adalah pupuk. Karena menggunakan produk nonsubsidi, petani kini berhadapan dengan harga yang tidak masuk akal.

Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin mencatat, harga pupuk urea nonsubsidi pada awal 2025 masih berkisar Rp 350 ribu per zak. Namun per April ini melonjak menjadi Rp 550 ribu per zak.

"Kenaikan ini mencapai sekitar 57%, terutama sejak pecahnya perang antara Iran dan Amerika Serikat di akhir Februari lalu," ujar Gunawan, Jumat (17/4).

Tak hanya Urea, Gunawan juga menyoroti lonjakan harga yang merembet ke jenis lain. Yakni NPK Phonska & Phonska Plus naik di atas 50%, serta TSP naik sekitar 26% dan NPK Grower naik 6,25%.

Meski harga jual TBS tinggi, Nilai Tukar Petani (NTP) perkebunan rakyat diprediksi akan mengalami tekanan hebat. Pada Maret lalu, NTP berada di level 224,85 dengan indeks harga yang dibayar petani sempat turun tipis 0,6%.

Namun, memasuki April, situasi berbalik arah. Gunawan memerkirakan indeks harga yang dibayar petani pada April ini akan mengalami peningkatan signifikan di tengah kenaikan biaya input produksi.

"Di sisi lain, indeks harga yang diterima petani diproyeksikan berpeluang naik tipis atau cenderung alami koreksi terbatas bulan ini," tambahnya.

Hasilnya, pendapatan bersih petani terancam tergerus. Kondisi ini diperparah dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Sempat menyentuh $113 per barel, kini harga minyak melandai di kisaran $90 - $95 per barel. Penurunan ini otomatis menyeret turun harga CPO ke level $1.102 per ton.

Gunawan menilai ada risiko besar yang mengintai di depan mata. Dari pantauan ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS), diproyeksikan terjadi peningkatan penggunaan bahan baku hingga 20% secara bulanan pada April ini.

Lalu penutupan Selat Hormuz akibat agresi AS-Israel ke Iran berpotensi mengganggu jadwal kapal dan menaikkan biaya logistik. Jika produksi terus melimpah hingga puncak panen Juni-Juli mendatang sementara permintaan ekspor terganggu akibat eskalasi konflik, RI juga terancam mengalami over supply.