BERAWAL dari sebuah unggahan santai di status WhatsApp, nasib Dyah Fatmi Asih berakhir getir. Pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Tlahab Lor, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, ini harus kehilangan pekerjaan setelah jemarinya mengetik kalimat yang memicu amarah publik.
Petaka itu bermula pada Minggu (15/3/2026) malam. Di sela rutinitasnya, Dyah mengunggah foto rekan-rekannya yang tengah berpose meregangkan otot.
Namun, bukan fotonya yang menjadi soal, melainkan takarir atau caption yang ia sematkan: “Peregangan sik, sebelum menghadapi komentar rakyat jelata yang kurang bersyukur, ehhh.”
Kalimat pendek itu bak sumbu pendek yang memicu ledakan di jagat maya. Tangkapan layar status tersebut menyebar cepat, bahkan memicu munculnya video-video editan kecerdasan buatan (AI) yang menyudutkan dirinya.
Koordinator SPPG Kabupaten Purbalingga, Mei Sandra, mengonfirmasi bahwa kegaduhan tersebut bersumber dari internal mereka. "Mulai ramai diperbincangkan sejak malam itu sampai hari ini," ujar Mei, Selasa (17/3/2026).
Tak butuh waktu lama bagi yayasan yang menaungi Dyah untuk mengambil sikap tegas. Kepala SPPG bersama Yayasan Samingah Mendidik Indonesia memutuskan untuk menjatuhkan sanksi pemberhentian alias pemecatan terhadap Dyah.
Langkah ini diambil sebagai bentuk evaluasi total agar kejadian serupa tidak terulang.
"Yang bersangkutan sudah membuat video klarifikasi permohonan maaf," tambah Mei.
Ia juga mengimbau agar seluruh kru SPPG lebih bijak bersosial media dan menjaga etika. Terutama karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersentuhan langsung dengan masyarakat luas.
Dalam video klarifikasinya, Dyah tampil dengan raut penuh penyesalan. Ia menegaskan bahwa ucapannya yang merendahkan penerima manfaat MBG adalah murni kesalahan pribadi dan tidak mewakili institusi tempatnya bekerja.
"Saya menyadari bahwa ucapan tersebut tidak pantas dan menyinggung perasaan. Saya memohon maaf dengan setulus hati," tutur Dyah.
Ia mengaku siap menanggung segala konsekuensi, termasuk kehilangan mata pencahariannya di saat operasional SPPG tengah libur menjelang Idulfitri.
Kini, di saat rekan-rekannya bersiap kembali bekerja pada 31 Maret mendatang, Dyah harus menerima kenyataan bahwa "peregangan" yang ia tulis di status WhatsApp justru menjadi akhir dari perjalanannya di SPPG.
