google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Virus Hanta Mengancam, Sumut Siagakan RS Adam Malik Jadi Benteng Utama

Advertisement

Virus Hanta Mengancam, Sumut Siagakan RS Adam Malik Jadi Benteng Utama

13 Mei 2026

RSUP Haji Adam Malik.

ANTARAsatu.com | MEDAN - Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus Hanta (Hantavirus) di wilayahnya. RSUP H. Adam Malik telah ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan utama untuk menangani kasus penyakit infeksi emerging tersebut.

Keputusan ini diambil menyusul terbitnya dua Surat Edaran dari Kementerian Kesehatan,  masing-masing tertanggal 12 Agustus 2025 dan 10 Mei 2026. Kedua surat itu mengenai kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap penyakit virus Hanta.

Virus ini merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui tikus atau hewan pengerat dengan tingkat kematian (case fatality rate) yang tinggi.
Selain RSUP H. Adam Malik, rumah sakit umum daerah dan swasta di Sumut juga diperkenankan merawat pasien suspek.

Rumah sakit lain diperbolehkan selama memiliki ruang isolasi khusus serta fasilitas standar penanganan gangguan pernapasan atau renal. Dinkes Sumut juga memastikan bahwa stok Alat Pelindung Diri (APD) dan fasilitas isolasi saat ini dalam kondisi cukup dan tersedia.

Untuk memperkuat pengawasan, Dinkes Sumut pun telah mengaktifkan surveilans terpadu. Yakni dengan memanfaatkan aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) di seluruh Puskesmas.

Pemantauan difokuskan pada tren kasus infeksi saluran pernapasan akut berat (SARI). Terutama untuk mendeteksi tipe HPS serta gejala mirip leptospirosis dan sindrom kuning untuk tipe HFRS.

"Hingga saat ini, data SKDR untuk kasus ISPA maupun sindrom kuning belum menunjukkan laporan signifikan yang mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB)," ungkap Hamid Rijal, Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut, Rabu (13/5).

Selain pengawasan di fasilitas kesehatan, koordinasi ketat dilakukan dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Medan. Bertujuan memantau pelaku perjalanan, terutama yang datang dari wilayah endemis melalui bandara dan pelabuhan.

Selain kesiapan yang dilakukan, Dinkes Sumut juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan. Melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Hal itu mengingat virus ini berkembang biak di lingkungan kotor dan lembap yang menjadi habitat tikus. Warga juga diminta waspada saat beraktivitas di gudang, selokan, maupun lahan pertanian.

"Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berisiko menjadi sarang tikus," ujar Hamid.

Masyarakat pun diminta segera melapor ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala-gejala serangan virus ini. Seperti pneumonia, demam tinggi, nyeri otot, hingga gangguan ginjal pasca-kontak dengan lingkungan yang berisiko.

Terkait kemampuan laboratorium, jika ada spesimen pasien akan dikirim ke sejumlah laboratorium rujukan nasional. Termasuk Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan di Jakarta, untuk memastikan akurasi deteksi virus.