google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Surplus Cabai Diproyeksikan Gagal Redam Lonjakan Inflasi Sumut

Advertisement

Surplus Cabai Diproyeksikan Gagal Redam Lonjakan Inflasi Sumut

22 Februari 2026

 

Penjualan cabai merah di pasar tradisional Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumut.


ANTARAsatu.com | MEDAN - Meski mencatatkan surplus produksi, harga cabai merah Sumut justru bergerak fluktuatif dan cenderung menanjak pada awal Ramadan tahun ini. Fenomena anomali pasar ini berpotensi menempatkan komoditas hortikultura tersebut sebagai penyumbang inflasi utama, baik di level regional maupun nasional.


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengungkapkan, harga cabai merah sempat menyentuh level terendah Rp23.000 per kg pada hari pertama Ramadan.


Namun, harga kembali melonjak hingga ke kisaran Rp40.000—Rp42.000 per kg pada Sabtu (21/2), sebelum bergerak di level Rp35.000—Rp38.000 per kg pada Minggu (22/2).


Menurut Gunawan, kenaikan harga di tengah status surplus ini disebabkan oleh tingginya aliran pasokan ke luar wilayah Sumut.


"Faktanya, harga bergerak naik dalam tiga hari perdagangan terakhir. Sekalipun Sumut memiliki suplai yang jauh melebihi konsumsi lokal, pasokan tersebut justru membanjiri wilayah di luar Sumut," ungkapnya, Minggu (22/2).


Menurut dia, aliran cabai merah dari Sumut kini terserap secara masif ke wilayah Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Barat, hingga Jambi. Ketika aliran pasokan ke luar meningkat dan demand di wilayah tujuan konsisten tinggi, terjadi tekanan harga yang ikut menyeret harga di tingkat produsen Sumut ke titik keseimbangan baru.


Selain faktor distribusi antarwilayah, gangguan panen di sejumlah sentra produksi akibat bencana alam pada November lalu juga mulai berdampak pada sisi penawaran (supply side).


"Kenaikan harga ini menjadi bukti bahwa surplus produksi tidak menjamin stabilitas harga jika distribusi ke wilayah basis konsumen tidak terkendali," tambahnya.


Dari sisi permintaan, Gunawan menilai belanja masyarakat pasca-lonjakan H-1 Ramadan mulai kembali normal, meski masih berada sedikit di atas rata-rata harian. Hal ini terindikasi dari penurunan aktivitas pemotongan sapi di Sumut, yang menandakan permintaan protein hewani mulai stabil.


Namun, dia memperingatkan pemda di Sumut bahwa tekanan inflasi masih akan datang dari komoditas pangan lain. Sejumlah komoditas seperti gula pasir, tepung, minyak goreng dan buah-buahan diprediksi tetap mengalami kenaikan permintaan selama Ramadan.


Secara keseluruhan, lanjut dia, tekanan harga saat ini lebih dipicu oleh faktor permintaan luar wilayah dan psikologi pasar. Jika tren harga di provinsi tetangga terus menanjak dan pasokan dari Aceh hingga Jawa tidak mampu menutup celah kebutuhan, cabai merah dipastikan akan kembali menjadi kontributor utama inflasi Sumut pada periode ini.