Kadisnaker Sumut Yuliani Siregar.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Disnaker Sumut membuka program magang ke Jepang dengan menggratiskan biaya seleksi dan pelatihan. Program itu dijalankan sebagai bagian dari strategi menekan angka pengangguran di provinsinya.
"Program magang kita ada yang di dalam dan ada yang ke luar negeri, yakni ke Jepang. Kesempatan ini kita buka untuk mengurangi angka pengangguran di Sumut," ungkap Kepala Dinas Tenaga Kerja Sumatera Utara Yuliani Siregar, Jumat (20/2).
Dia menjelaskan, mulai 2026, Disnaker Sumut membuka program magang ke Jepang dengan frekuensi dua gelombang dalam setahun. Gelombang pertama dijadwalkan berjalan pada April dan berikutnya pada September.
Disnaker membuka kuota sebanyak 200 orang perserta untuk tiap gelombang. Dan saat ini proses pendaftaran untuk gelombang April sudah dibuka dan dilakukan langsung di Kantor Disnaker Sumut.
Dia menjelaskan, peserta magang ke Jepang melalui Disnaker Sumut mengikuti seleksi berdasarkan kemampuan akademik. Seperti matematika, kemampuan fisik serta kemampuan berbahasa Jepang.
Disnaker Sumut menggratiskan biaya seleksi dan pelatihan bagi peserta jalur tersebut. Setelah dinyatakan lolos, mereka akan diberangkatkan dengan pembiayaan dari perusahaan yang menerima magang di Jepang.
Masyarakat juga dapat mengikuti program magang ke Jepang melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang terdaftar di Sumut. Terdapat sebanyak 11 LPK resmi di Sumut yang memiliki kewenangan mengirim peserta magang ke Jepang.
Namun peserta yang mengikuti jalur LPK harus menanggung biaya sebesar Rp42 juta. Biaya tersebut mencakup keberangkatan, pelatihan dan kemahiran bahasa Jepang.
Terkait dengan masalah itu disnaker juga sedang mencoba mendapat dukungan pembiayaan melalui Bank Sumut. Jika berhasil, bentuk dukungan pembiayaannya bisa berupa kredit usaha rakyat (KUR).
"Kita masih koordinasi dengan Bank Sumut untuk membahas formulasi pinjaman dan mekanisme penjaminan agar tidak terjadi kredit macet," ungkapnya.
Menurut dia, skema pinjaman serupa telah diterapkan di Jawa Barat, Bali dan Jawa Timur. Adapun peserta magang ke Jepang akan menjalani program selama tiga hingga lima tahun.
Selain magang ke Jepang, ada juga pilihan untuk magang di dalam negeri. Program ini berjalan sejak 2025 dan sudah menyerap 2.800 orang dari Sumut yang bekerja di berbagai perusahaan dan rumah sakit.
Dalam jalur ini calon peserta mendaftar melalui aplikasi Kemenaker di maganghub.kemenaker.go.id. Seleksi dilakukan Kemenaker dan peserta yang lolos akan ditempatkan di perusahaan dalam negeri.
Dalam program ini mereka bekerja selama enam bulan dan seluruh biaya magang ditanggung oleh negara. Setelah enam bulan, peserta diharapkan dapat melanjutkan bekerja di perusahaan tersebut.
Yuliani menilai program-program magang tersebut cukup efektif menekan angka pengangguran di Sumut. Angka pengangguran di Sumut kini diklaimnya tercatat sekitar 448.000 orang, lebih kecil dari 2024 yang mencapai sekitar 458.000 orang.
Dia menambahkan, setelah peserta selesai mengikut program magang Jepang, keterampilan yang didapat diharapkan dapat dikembangkan di Sumut. Sudah banyak alumni magang asal Sumut mengembangkan ketrampilan yang didapatnya dari Jepang.
"Seperti mereka yang kini bekerja sama dengan kelompok tani di Tapanuli Utara dalam pengembangan pertanian cabai," terangnya.
Disnaker bersama dengan dinas pendidikan dan LPK juga berencana mengadakan sosialisasi program magang kepada para siswa SMA dan SMK. Sosialisasi dilakukan setidaknya sebagai persiapan dini bagi mereka yang tertarik mengikuti program magang.
