Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - IHSG dan Rupiah bergerak berbeda pada perdagangan Rabu (18/2), sementara harga emas kembali menguat. IHSG ditutup naik 1,19% ke level 8.310,227, Rupiah melemah ke 16.875 per dolar AS, dan emas menguat ke US$4.914 per ons troi atau sekitar Rp2,7 juta per gram.
Penguatan IHSG terjadi di tengah membaiknya mayoritas bursa saham Asia. Sejumlah emiten besar yang mendorong kenaikan antara lain BMRI, BBCA, BBRI, GOTO, dan TLKM.
“Penguatan emas terjadi setelah muncul pernyataan pejabat The Fed Chicago yang menyebut pemangkasan bunga acuan bisa saja dilakukan tahun ini,” ujar Gunawan Benjamin, Ekonom UISU, di Medan.
Penguatan IHSG juga dipengaruhi faktor hari libur sehingga indeks menyesuaikan kenaikan bursa Asia selama libur sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi saat sebagian besar bursa kawasan mencatat perbaikan.
Di sisi lain, Rupiah justru ditutup melemah di level 16.875 per dolar AS. Pelemahan terjadi di tengah pernyataan The Fed yang bernada hawkish.
USD Index naik ke level 97,30 dan imbal hasil US Treasury bergerak naik di atas 4%. Rupiah berpeluang melawan tekanan dolar AS apabila rilis data ekonomi Amerika Serikat menggiring spekulasi pemangkasan bunga acuan.
Harga emas dunia ditransaksikan menguat ke level US$4.914 per ons troi. Penguatan terjadi setelah pejabat The Fed wilayah Chicago menyatakan kemungkinan pemangkasan bunga acuan pada tahun ini.
Pasar selanjutnya menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat. Data tersebut menjadi penentu arah pasar berikutnya.
Pasar saat ini tidak didukung transaksi besar seiring libur panjang di China. Likuiditas menurun karena pasar keuangan China ditutup dalam rangka perayaan tahun baru.
Kondisi tersebut membuat pasar kekurangan sentimen yang potensial. Pergerakan pasar cenderung mendatar dalam situasi tersebut.
