Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Harga emas dunia kembali menguat di tengah tensi geopolitik global yang belum mereda. Harga emas ditransaksikan di kisaran US$4.968 per ons troi pada akhir pekan setelah sebelumnya sempat turun ke level US$4.640-an per ons troi dan kembali mendekati level psikologis US$5.000 per ons troi.
Penguatan harga emas terjadi seiring belum tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Kemungkinan pertemuan lanjutan masih terbuka meski belum terlihat adanya kata sepakat dalam waktu dekat dan pasar masih mengkhawatirkan potensi perang kedua negara.
“Harga emas masih berpeluang menguat hingga US$5.750 per ons troi sepanjang tensi geopolitik global belum mereda,” ujar Gunawan Benjamin, Ekonom UISU, Rabu (11/2).
Harga emas sebelumnya sempat melemah di tengah rencana pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran di Oman. Arah harga kemudian berbalik seiring meningkatnya kekhawatiran geopolitik global.
Selain faktor geopolitik, kinerja perekonomian Amerika Serikat juga menunjukkan pelemahan. Data sektor ketenagakerjaan Amerika Serikat tercatat memburuk dan mendorong spekulasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada tahun ini.
Klaim pengangguran awal di Amerika Serikat tercatat mencapai 231 ribu pada Januari. Data ketenagakerjaan tersebut kerap dijadikan acuan dalam memproyeksikan arah kebijakan moneter Amerika Serikat ke depan.
Harga emas memperoleh dukungan dari memburuknya data ekonomi Amerika Serikat serta tensi geopolitik yang belum mereda. Hingga saat ini belum terdapat alasan yang mendorong harga emas berbalik melemah.
Jika dikonversikan ke rupiah, harga emas berpeluang bergerak dalam rentang Rp3,2 juta hingga Rp3,4 juta per gram pada 2026 saat situasi politik memanas. Saat ini harga emas masih ditransaksikan di kisaran Rp2,6 juta hingga Rp2,8 juta per gram.
