Pohon Kapur Barus.
Jauh sebelum 'emas hitam' bernama minyak bumi atau deretan gedung properti menjadi tolok ukur kemakmuran, sebuah imperium ekonomi telah berdiri kokoh di Tanah Batak. Kekayaannya tidak bersumber dari pengerukan bumi, melainkan dari sebatang pohon yang namanya terpatri suci di dalam Alquran: Kapur Barus.
Bagi trah Sisingamangaraja, penguasa Negeri Toba yang bertahta sejak 1530 hingga 1907, tanaman Dryobalanops aromatica ini bukan sekadar flora biasa. Inilah 'emas hijau' yang membawa nama harum Tanah Batak ke telinga pedagang Arab, Asia, hingga Eropa.
Penyebutan kapur (kafir) dalam Alquran Surat Al-Insan ayat 5—sebagai campuran minuman bagi orang-orang bajik di surga—bukan tanpa alasan. Kapur barus alami yang dihasilkan di Sumatra, Malaya dan Kalimantan adalah komoditas elit yang sangat langka.
Aromanya yang magis dan khasiat kesehatannya membuat dunia memburunya dengan harga setara logam mulia. Trah Sisingamangaraja memahami nilai strategis ini.
Sejak kepemimpinan Sisingamangaraja I, mereka membangun monopoli perdagangan yang sangat rapi. Mereka menjadi jembatan utama yang menghubungkan pedalaman Toba dengan pelabuhan internasional Barus.
Dari sinilah, akumulasi kekayaan triliunan rupiah bermula.
Berbeda dengan penguasa modern yang menginvestasikan harta pada aset fisik, trah Sisingamangaraja memilih menyimpan kejayaan mereka dalam bentuk perhiasan legendaris. Sejarah mencatat kegemaran para penguasa Toba ini dalam mengumpulkan batu mulia dari negeri jauh.
"Raja-raja Sisingamangaraja ke-1 hingga ke-10 sangat suka mengumpulkan Blue Diamonds dan intan dari Ceylon (Sri Lanka) yang dibawa melalui jalur perdagangan India. Besarnya disebut-sebut menyerupai telur burung," tulis Augustin Sibarani dalam buku Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, mengutip cnbcindonesia.com, Minggu (22/2).
Skala kemakmuran ini pun bukan sekadar isapan jempol sejarah. Catatan Mangaraja Onggang Parlindungan dalam buku Tuanku Rao (1964) memberi gambaran mengejutkan.
Saat terjadi konflik dengan kelompok Padri pada 1818, harta rampasan dari istana Sisingamangaraja diangkut oleh 17 ekor kuda. Masing-masing kuda membawa beban 60 kilogram emas.
Jika dikonversi ke nilai tukar saat ini, total 1 ton emas tersebut setara dengan Rp2,3 triliun.
Namun, sebagaimana hukum sejarah, setiap kejayaan memiliki masa senja. Memasuki abad ke-19, kolonialisme Belanda mulai mengendus aroma keuntungan dari perdagangan kapur barus.
Jalur-jalur dagang internasional yang selama berabad-abad dikuasai trah Sisingamangaraja mulai dipangkas paksa. Kekuatan ekonomi yang melemah berbanding lurus dengan tekanan politik penjajah.
Pada masa Sisingamangaraja XII, sang pahlawan nasional, harta simpanan para pendahulunya tak lagi utuh karena digunakan untuk membiayai perang gerilya yang panjang. Ketika Sisingamangaraja XII gugur dalam perlawanan heroik di hutan Simsim pada 1907, jejak kekayaan legendaris itu pun seolah ikut menguap bersama aroma kapur barus yang kian langka.
