Banjir dan longsor yang memutus jalan lintas di wilayah Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Tapteng, Sumut, Senin (16/2). (Dok. Polres Tapteng)
ANTARAsatu.com | TAPANULI TENGAH - Banjir dan tanah longsor melanda hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, sejak Senin (16/2) sore. Kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus kembali menutup badan jalan dan melumpuhkan aktivitas di berbagai wilayah.
Di Kelurahan Lopian, Kecamatan Badiri, arus lalu lintas lumpuh akibat genangan air deras dan tumpukan material kayu. Badan jalan tertutup kayu-kayu gelondongan sehingga kemacetan panjang terjadi.
"Selain arus banjir yang deras, material kayu gelondongan juga terbawa banjir dan menumpuk di badan jalan. Sehingga membuat kemacetan yang panjang," ungkap Bupati Tapteng Masinton Pasaribu, Rabu (18/2).
Banjir juga memutus akses jalan nasional yang menghubungkan Sibolga menuju Padangsidimpuan dan ke arah Tapanuli Utara. Jalur tersebut sempat terputus total akibat genangan dan material banjir.
Tim gabungan dari TNI, Polri, Basarnas dan BPBD melakukan pembersihan material sejak malam hari. Jalur utama mulai bisa dilalui kendaraan pada Selasa dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.
Tanah longsor terjadi di jalur yang menghubungkan Tapanuli Tengah dengan Tapanuli Utara. Beberapa titik jalan nasional di daerah Naga Timbul, Kecamatan Sitahuis, tertutup material tanah.
Material longsor menutup ruas Tarutung-Sibolga. Akses kendaraan sempat terhambat akibat timbunan tersebut.
Pemkab Tapteng mencatat banjir kini meluas hampir di seluruh kecamatan di wilayahnya. Genangan dan aliran banjir terjadi di berbagai wilayah permukiman.
Di Kecamatan Tukka, tepatnya di Jalan Humala Tambunan, Bonalumban, dan Hutanabolon, air merendam rumah warga hingga memicu pemadaman listrik. Warga di Hutanabolon dievakuasi menggunakan mobil Dalmas ke Hunian Sementara (Huntara) Sipange.
Kondisi parah juga terjadi di Kecamatan Badiri, tepatnya di Lubuk Ampolu dan Lopian. Ketinggian air terus meningkat hingga akses keluar masuk desa terputus.
Di Kecamatan Pasaribu Tobing, satu kantor desa, satu unit PAUD dan dua rumah warga terdampak banjir. Bangunan tersebut dilaporkan nyaris tenggelam akibat genangan.
Di wilayah pesisir seperti Kecamatan Barus dan Andamdewi, debit Sungai Aek Sirahar meluap. Tanggul dilaporkan jebol akibat luapan tersebut.
Di Desa Kinali, Pasar Terandam, Ujung Batu, Kampung Mudik, Aek Dakka, dan Padang Masiang, ketinggian air mencapai sekitar satu meter. Permukiman warga terendam akibat genangan tersebut.
Banjir juga melumpuhkan aktivitas warga di Kecamatan Pandan, Tapian Nauli, Lumut, Kolang, Pinangsori, Manduamas, hingga Sosorgadong. Kendaraan roda dua dan roda empat terjebak karena jalan utama tergenang cukup dalam.
Masinton mengatakan, pemerintah daerah bersama instansi terkait masih bersiaga di lokasi terdampak. Pendataan terhadap kerusakan rumah warga serta fasilitas umum lain juga masih dilakukan akibat bencana ini.
Pada 25 November 2025 terjangan banjir dan longsor yang disertai dengan kayu-kayu gelondongan juga terjadi di kabupaten tersebut. BPBD Tapteng mencatat sedikitnya 6.602 rumah rusak dan 128 orang tewas akibat kejadian itu.
