google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Askrindo: Gaya Hidup Pinjol Gen Z Picu Jurang Inklusi Asuransi

Advertisement

Askrindo: Gaya Hidup Pinjol Gen Z Picu Jurang Inklusi Asuransi

07 Oktober 2026

Berphoto bersama usai kegiatan Financial Survival Kit: Pentingnya Proteksi Bagi Gen Z di FEB USU, Rabu (7/10).

ANTARASATU.COM | Medan - Gaya hidup generasi Z yang semakin bergantung pada layanan digital, termasuk pinjaman online, menjadi salah satu perhatian dalam edukasi literasi keuangan dan asuransi yang digelar PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero), atau Askrindo, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU), Medan.

Direktur Utama Askrindo R. Mahelan Prabantarikso mengatakan, generasi muda merupakan kelompok yang paling aktif menggunakan teknologi digital. Namun masih menghadapi kesenjangan dalam memahami dan memanfaatkan produk asuransi.

“Pemahaman masyarakat terhadap keuangan secara umum meningkat, tetapi terhadap asuransi justru mundur. Ini bukan angka yang bisa kita biarkan, apalagi bagi generasi muda yang akan menjadi tulang punggung ekonomi dalam lima sampai 10 tahun ke depan,” ungkap Mahelan dalam kegiatan bertajuk Financial Survival Kit: Pentingnya Proteksi Bagi Gen Z di FEB USU, Rabu (7/10).

Kegiatan digelar Askrindo, anggota holding Asuransi dan Penjaminan Indonesia Financial Group (IFG) dan bagian dari Danantara, sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan dan asuransi di kalangan mahasiswa.

Mahelan merujuk hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Badan Pusat Statistik pada Agustus 2026. Dalam survei ini, indeks literasi asuransi tercatat 42,84%, turun dari 45,45% pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, tingkat inklusi asuransi baru mencapai 29,55^. Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan lebih dari 13 poin persentase antara masyarakat yang memahami produk asuransi dan yang menggunakannya.

Penurunan literasi asuransi terjadi ketika indeks literasi keuangan nasional justru meningkat menjadi 69,57%. Angka itu telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Menurut Mahelan, kondisi ini menunjukkan adanya paradoks di kalangan generasi Z. Ia menyebutnya sebagai “Gen Z Paradox”, yakni ketika generasi yang sangat terkoneksi secara digital justru rentan menghadapi risiko keuangan yang tidak terkelola.

Data yang disampaikan Mahelan menunjukkan sebanyak 64,9% pengguna pinjaman online berada dalam kelompok usia 19-34 tahun. Dari jumlah itu, sebanyak 58% di antaranya menggunakan pinjaman untuk kebutuhan gaya hidup, bukan kegiatan produktif.

“Mereka sangat digital literate, tapi belum financially literate. Akses digital membuka peluang besar, tapi juga membawa risiko baru, mulai dari konsumsi impulsif, penipuan digital, sampai keputusan finansial tanpa pendampingan yang memadai,” kata dia.

Dalam kegiatan ini Mahelan juga memerkenalkan empat tahap pengelolaan keuangan, yakni menghasilkan (earn), mengelola (manage), melindungi (protect) dan mengembangkan (grow).

Dia menilai tahap perlindungan melalui asuransi kerap terlewat oleh generasi muda. Menurut dia, besarnya penghasilan tidak otomatis membuat seseorang aman secara finansial.

“Penghasilan besar bukan jaminan aman secara finansial. Sepertiga orang berpenghasilan tinggi tetap mengalami stres finansial. Yang membedakan mereka yang bertahan adalah kesiapan, bukan sekadar kemampuan,” terang Mahelan.

Pemilihan FEB USU sebagai lokasi edukasi merupakan bagian dari strategi Askrindo menjangkau calon pelaku ekonomi di luar Pulau Jawa. Pihak FEB USU menyambut inisiatif itu karena mahasiswa selama ini lebih banyak memperoleh teori keuangan di ruang kuliah dan belum banyak mendapat paparan langsung dari praktisi industri asuransi.

Kegiatan di USU merupakan bagian dari rangkaian program edukasi Askrindo sepanjang 2026. Melalui program ini perusahaan berupaya memerkuat perannya tidak hanya dalam bidang penjaminan dan asuransi, tetapi juga dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perlindungan finansial.

“Proteksi bukan karena kita takut pada masa depan, tapi karena kita ingin tetap bisa melangkah saat hal tak terduga terjadi. Bermimpilah besar, mulailah dari hal kecil, dan persiapkan sedini mungkin,” kata Mahelan.