google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Inflasi Tinggi Intai Sumut akibat Krisis BBM

Advertisement

Inflasi Tinggi Intai Sumut akibat Krisis BBM

14 Juli 2026


ANTARASATU.COM | MEDAN - Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Kota Medan dan sekitarnya dinilai bukan sekadar masalah antrean panjang. Namun bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas inflasi daerah.

Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin memperingatkan, fenomena ini berpotensi memicu volatilitas harga kebutuhan pokok. Jika sebelumnya antrean hanya terjadi pada BBM jenis solar bersubsidi, kini telah meluas ke pembelian Pertalite dan Pertamax.

"Antrean panjang ini berpeluang menciptakan volatilitas harga di level pedagang, yang nantinya akan ditransmisikan ke konsumen," ungkapnya, Selasa (14/7).

Menurut Gunawan, jalur logistik utama di Sumut sangat bergantung pada kendaraan pengguna solar bersubsidi. Keterlambatan distribusi akibat antrean panjang menyebabkan pasokan komoditas pangan di pasar induk berisiko berkurang.

Risiko kendaraan datang terlambat bisa membuat ketersediaan pasokan saat proses lelang di pasar induk menjadi lebih sedikit. Akibatnya, harga komoditas pangan berpeluang naik.

Selain risiko inflasi pangan, krisis BBM ini juga dinilai dapat menekan daya beli masyarakat. Gunawan mencatat, kelangkaan Pertalite yang memaksa masyarakat beralih ke Pertamax atau mengurangi mobilitas yang akan berdampak langsung pada pelemahan geliat ekonomi.

Bahkan saat ini antrean juga terjadi untuk Pertalite sehingga dampaknya meluas pada penambahan pengeluaran masyarakat.

Gunawan juga melihat masalah ini tidak berdiri sendiri. Ia melihat adanya korelasi kuat antara kelangkaan BBM dengan kondisi makroekonomi.

Seperti kemampuan fiskal pemerintah yang terbatas, pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Ia berharap pemerintah segera memulihkan distribusi BBM agar dampak ekonomi yang lebih luas dapat diredam.