google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Tensi Perang Iran-AS Turun, Harga Emas Makin Murah

Advertisement

Tensi Perang Iran-AS Turun, Harga Emas Makin Murah

10 Juli 2026

Ilustrasi.

ANTARASATU.COM | MEDAN - Harga emas dunia kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan akhir pekan, Jumat (10/7). Di pasar spot, harga emas ditransaksikan di level US$4.105 per ons troy, atau setara dengan Rp2,39 juta per gram.

Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, koreksi ini dipicu oleh respons pasar yang optimistis terhadap rencana negosiasi damai di Selat Hormuz.

"Harga emas dunia terkoreksi karena meredanya konflik geopolitik. Investor cenderung mengambil untung atau mengalihkan portofolio dari emas yang sempat naik tajam, sehingga saat ini emas lebih banyak bergerak sideways dalam fase konsolidasi," ungkapnya, di Medan.

Volatilitas emas terlihat cukup kontras dalam lima hari perdagangan terakhir. Setelah sempat menguat 1,49% pada 3 Juli di level US$4.187,30 per ons troy, emas sempat terkoreksi berturut-turut pada 6 Juli sebesar 0,47% ke level US$4.167,50, dan 7 Juli sebesar 0,24% ke level US$ 4.157,40.

Tekanan jual semakin dalam pada 8 Juli dengan penurunan sebesar 1,80% ke level US$ 4.082,40, sebelum sempat kembali menguat 1,20% ke level US$ 4.131,20 pada 9 Juli.

Gunawan menambahkan, meski pasar keuangan domestik menunjukkan ketahanan, kinerja selama sepekan terakhir masih terlihat rentan terhadap sentimen negatif eksternal. Pada pekan depan ia memproyeksikan harga emas masih akan terus bergerak terbatas di rentang konsolidasi.

"Selama belum ada sentimen fundamental baru yang memicu volatilitas geopolitik atau inflasi di Amerika Serikat," ujarnya.

Kondisi berbeda terjadi di pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 0,2% ke level 5.924,36. Meski sempat tertekan hingga ke level 5.887 pada sesi kedua, IHSG bangkit di detik-detik terakhir perdagangan, sejalan dengan tren bursa Asia yang mayoritas parkir di zona hijau.

Sentimen serupa turut menyokong nilai tukar Rupiah yang ditutup menguat di level 18.045 per dolar AS. Meredanya ketegangan di Selat Hormuz menekan posisi dolar AS, kondisi yang dimanfaatkan oleh mata uang Asia lain seperti Bath Thailand, Yuan China, Rupee India dan dolar Singapura untuk mencatatkan penguatan.

Terkait arus modal asing di bursa saham, menurut Gunawan, investor asing terpantau melakukan beli bersih (net buy) pada sejumlah emiten, seperti ADRO, ELSA, BRMS, TINS dan INDF. Namun, aksi jual bersih (net sell) masih berlanjut pada saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, TLKM, DEWA serta TPIA.