Ilustrasi.
ANTARASATU.COM | MEDAN - Mata uang Rupiah kembali menunjukkan performa yang loyo pada perdagangan Kamis (9/7). Rupiah terjebak di zona merah, bahkan sempat menyentuh level pelemahan hingga Rp18.150 per dolar AS.
Pada sesi penutupan, mata uang Garuda harus puas bertengger di level Rp18.070 per dolar AS. Pelemahan ini terasa janggal bagi sebagian pelaku pasar.
Pasalnya, USD Index justru bergerak melemah di bawah level 101. Lazimnya, pelemahan dolar AS menjadi katalis positif bagi Rupiah, tetapi kali ini kondisi tersebut gagal memberi sentimen penguatan.
Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, pelemahan Rupiah saat ini tidak lepas dari sentimen fundamental domestik yang kurang menggembirakan. Terutama terkait data konsumsi rumah tangga.
"Data penjualan ritel yang tumbuh negatif sebesar 3,9% pada Mei, setelah sebelumnya terkoreksi 3,7% di bulan April, memberikan gambaran nyata bahwa belanja masyarakat kita sedang dalam tekanan serius," ungkapnya, di Medan.
Menurut Gunawan, jebloknya data ritel ini menjadi sinyal peringatan bagi stabilitas ekonomi. Ketika konsumsi sebagai motor utama ekonomi melambat, maka kepercayaan pasar terhadap mata uang domestik ikut memudar.
Rupiah terus melemah karena pasar melihat ada perlambatan daya beli yang signifikan. Berbanding terbalik dengan kondisi Rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mampu menapak di zona hijau.
Indeks ditutup menguat 0,67% ke level 5.912,46. Penguatan ini didorong oleh aksi beli pada sejumlah emiten papan atas, seperti BBCA, BMRI, BUMI, BRPT, dan TPIA.
Meski IHSG berhasil rebound ke level tertingginya, tetapi Gunawan mengingatkan bahwa sektor keuangan Tanah Air tetap berada di bawah tekanan besar. Ia meyakini pasar saham tetap rentan jika data ekonomi riil, seperti penjualan ritel, tidak segera membaik.
Sementara di pasar komoditas, harga emas dunia mencatatkan penguatan tipis di level $4.105 per ons troy, atau sekitar Rp2,39 juta per gram. Gunawan menilai penguatan emas ini lebih bersifat teknikal.
Sebagai respons atas aksi jual yang terjadi sebelumnya. Juga belum sepenuhnya mencerminkan perubahan arah kebijakan moneter global yang drastis.
