google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Selain Lebih Boros, B50 Berisiko Rusak Mesin Diesel akibat Sedimen

Advertisement

Selain Lebih Boros, B50 Berisiko Rusak Mesin Diesel akibat Sedimen

09 Juli 2026


ANTARASATU.COM | MEDAN - Pemerintah Indonesia resmi menerapkan kebijakan bahan bakar nabati B50 per Juli 2026. Di balik janji manis penghematan devisa negara sebesar Rp157,28 triliun dan ambisi menekan emisi karbon, kebijakan ini menyimpan keresahan nyata di balik kap mesin jutaan kendaraan serta unit genset nasional.

Optimisme pemerintah mengenai kemandirian energi kini dibayangi pertanyaan: apakah mesin diesel kita benar-benar siap menenggak campuran 50% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis sawit tersebut?

Prof. Dr. Ir. Tulus Burhanuddin Sitorus, S.T., M.T., IPM., Dosen Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU), blak-blakan membedah realitas teknis di balik B50. Ia menegaskan, konsumen harus bersiap menghadapi konsumsi bahan bakar yang lebih boros.

"Dari sisi liter per kilometer atau liter per jam, B50 cenderung sedikit lebih boros, bukan lebih irit," ungkapnya, Kamis (9/7).

Data uji, kata dia, menunjukkan kenaikan konsumsi mencapai 1%–3% dibandingkan pendahulunya, B40. Pada pengujian alat berat tertentu, angka pemborosan bahkan menyentuh 3,12% akibat nilai kalor biodiesel yang lebih rendah dibanding solar fosil.

Lebih dari sekadar boros, ancaman kerusakan mesin juga bisa menjadi momok bagi pengguna. Sifat kimia biodiesel yang lebih higroskopis membuat bahan bakar ini rentan terhadap oksidasi dan kontaminasi air serta mikroba.

Bagi pemilik genset atau kendaraan yang jarang digunakan, B50 bisa menjadi "bom waktu". Tulus memperingatkan adanya risiko degradasi bahan bakar jika disimpan terlalu lama.

"Istilah 'basi' dalam konteks ilmiah lebih tepat disebut degradasi oksidatif, pembentukan sedimen, kenaikan keasaman, atau kontaminasi air-mikroba," jelasnya.

Sedimen yang terbentuk akibat degradasi ini berpotensi menyumbat filter bahan bakar secara tiba-tiba. Yang jika diabaikan akan merembet pada kerusakan sistem injeksi.

Selain itu, komponen mesin lawas, terutama selang karet, seal dan gasket, memiliki risiko tinggi mengalami getas karena ketidaksesuaian material dengan kandungan FAME yang tinggi.

Pemerintah mungkin telah melakukan uji teknis pada enam sektor utama dengan tingkat keberhasilan 80%–90%. Namun, Tulus mengingatkan bahwa hasil laboratorium tidak otomatis menjadi "kartu as" untuk semua kondisi di lapangan.

"Usia mesin, kebersihan tangki dan pola operasi sangat menentukan," ujarnya.

Karena itu, menurut dia, untuk bertahan di era B50 pengguna mesin diesel dibebankan dengan kewajiban perawatan yang lebih ketat. Antara lain:

- Rotasi Bahan Bakar: Terapkan prinsip first-in first-out (FIFO) untuk stok cadangan.

- Pembersihan Rutin: Periksa secara berkala water separator dan kuras tangki dari sedimen.

- Suku Cadang: Siapkan filter bahan bakar cadangan lebih banyak karena biodiesel berpotensi melarutkan deposit lama di dalam tangki.

- Monitor Kinerja: Catat konsumsi dan jam operasi selama 1–2 bulan pertama untuk mendeteksi dini tanda-tanda keausan.


Dia menegaskan, implementasi B50 bukan sekadar urusan mencampur sawit dengan solar. Keberhasilan kebijakan ini, menurut Tulus, sangat bergantung pada konsistensi mutu biodiesel, ketepatan distribusi dan disiplin perawatan pengguna.

"Agar kredibel, implementasinya perlu dikawal dengan mutu biodiesel yang konsisten, distribusi bersih, kesiapan pengguna serta evaluasi lapangan yang terbuka," pungkasnya.