google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Selisih Bunga BI dan The Fed Bikin Rupiah Makin Babak Belur

Advertisement

Selisih Bunga BI dan The Fed Bikin Rupiah Makin Babak Belur

22 Juni 2026


ANTARASATU.COM
| MEDAN - Nilai tukar rupiah kian tertekan sepanjang sesi perdagangan Senin (22/6), dan ditutup melemah di level 17.825 per dolar AS setelah sempat terpuruk hingga ke level 17.835. Menyeret Indeks Harga Saham Gabungan melemah 0,98% ke level 6.116,66, bergerak anomali di tengah mayoritas bursa saham Asia yang justru ditutup menguat.

Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai tekanan pada rupiah menjadi beban terberat yang menghantui pasar keuangan domestik sepanjang hari. Sepanjang sesi, IHSG sendiri sempat menyentuh level tertinggi 6.226 sebelum tertekan hingga ke titik terendahnya di level 6.052.

"Tekanan pada rupiah menjadi beban berat bagi IHSG selama sesi perdagangan berlangsung. Kinerja rupiah kian memburuk hingga sesi penutupan," ungkap Gunawan, di Medan.

Menurut Gunawan, pangkal masalah pelemahan rupiah hari ini adalah ekspektasi kenaikan laju inflasi Amerika Serikat yang kian menguat. Ekspektasi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa The Fed akan kembali mengerek suku bunga acuannya, yang pada gilirannya akan memperlebar selisih suku bunga antara Bank Indonesia dan The Fed.

Jika selisih itu kian melebar, aset-aset berdenominasi dolar AS menjadi jauh lebih menarik di mata investor global dibanding aset rupiah. Kondisi ini mendorong arus modal keluar dari pasar keuangan domestik dan menekan rupiah semakin dalam.

Tekanan itu diperparah oleh sejumlah indikator global yang bergerak tidak menguntungkan. USD Index tercatat stabil di level 100,8, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun cenderung menguat ke level 4,48%.

Di sisi domestik, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun memang sedikit pulih ke level 7,14%. Namun masih jauh di bawah capaian tertingginya pada awal Juni yang menyentuh 7,5%.

"Ekspektasi kenaikan laju inflasi AS akan membuat perbedaan suku bunga acuan BI dengan The Fed semakin melebar. Ini yang membuat rupiah terus dalam tekanan," kata Gunawan.

Di tengah tekanan tersebut, pemerintah sebetulnya telah mengumumkan keberhasilan menerbitkan obligasi dalam denominasi mata uang asing. Secara fundamental, penerbitan surat utang valas ini menjanjikan tambahan likuiditas valuta asing yang seharusnya berpeluang mendorong penguatan rupiah.

Namun Gunawan menilai sentimen negatif yang bertubi-tubi jauh lebih dominan. Ketidakpastian geopolitik global yang masih memanas turut menekan rupiah, mengalahkan dampak positif yang diharapkan dari penerbitan obligasi valas pemerintah.

"Sejauh ini rupiah masih berada dalam tekanan sejalan dengan kekhawatiran laju inflasi di masa mendatang," ujarnya.

Di tengah pelemahan rupiah dan IHSG, harga emas dunia bergerak ke arah sebaliknya. Emas ditransaksikan menguat ke level US$4.209 per ons troy atau setara sekitar Rp2,42 juta per gram.

Namun Gunawan mengingatkan agar penguatan ini tidak terburu-buru ditafsirkan sebagai sinyal pemulihan jangka panjang. Kenaikan harga emas itu, kata dia, lebih didorong oleh faktor teknikal semata.