google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Gerombolan Preman Hantui Belawan, Para Sopir Diserang Brutal

Advertisement

Gerombolan Preman Hantui Belawan, Para Sopir Diserang Brutal

20 Juni 2026


ANTARASATU.COM | MEDAN - Suasana mencekam menyelimuti kawasan Jalan Besar Medan–Belawan, Kampung Salam, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sabtu (20/6). Ratusan sopir dan karyawan PT Belawan Indah (BI) menjadi sasaran amuk puluhan orang yang diduga preman bayaran PT SBP.

Penyerangan brutal yang melibatkan senjata tajam dan benda tumpul ini menyebabkan empat orang kritis dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Peristiwa yang pecah sekitar pukul 10.00 WIB ini diduga merupakan puncak dari konflik lahan yang berlarut-larut.

Berdasarkan informasi saksi-saksi mata di lapangan, massa yang diduga berasal dari salah satu ormas itu tiba-tiba merangsek masuk ke area operasional PT BI, memicu kepanikan massal di kalangan pekerja.

"Kami sedang sibuk bekerja, tiba-tiba mereka datang membawa senjata tajam dan benda tumpul. Tidak ada peringatan, langsung menyerang siapa saja yang ada di depan," ujar seorang sopir truk PT BI yang tidak bersedia diungkap namanya.

Tak hanya melukai pekerja, gerombolan ini juga melakukan perusakan hebat. Sebuah minibus Toyota bernomor polisi BK 1599 OY milik mandor perusahaan digulingkan, sementara belasan sepeda motor milik karyawan dijarah.

Seorang warga juga sempat diintimidasi secara fisik saat mencoba mendokumentasikan aksi brutal tersebut dengan ponselnya.

Konflik antara PT BI dan PT SBP sebenarnya sudah masuk dalam radar pengawasan aparat. Pada 11 Juni lalu, Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Belawan telah menggelar mediasi.

Dalam pertemuan yang dihadiri Kapolsek Belawan, Danramil, Camat Medan Belawan serta perwakilan Dinas Perkim-TRTB Medan itu, disepakati agar PT SBP menghentikan pembangunan tembok beton.

Dasar penghentian ini adalah ketiadaan izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan upaya meredam potensi konflik. Namun kesepakatan itu dianggap seperti angin lalu.

Pembangunan tembok tetap berlanjut, yang kemudian disusul oleh aksi penyerangan pada hari ini.

Keterlambatan respons aparat kepolisian menjadi sorotan tajam. Para pekerja mengklaim, butuh waktu lebih dari satu jam hingga akhirnya petugas tiba di lokasi.

Hingga pukul 13.30 WIB, ketegangan masih terasa di sekitar lokasi. Gerombolan massa masih tampak melakukan konvoi sepeda motor sembari menggeber kendaraan, menebar teror bagi masyarakat sekitar.

Kuasa Hukum PT BI, Darmawan Yusuf, mengecam keras aksi itu. Ia menilai pembiaran yang dilakukan aparat selama ini telah memberikan ruang bagi para pelaku untuk terus beraksi.

"Mengapa para pelaku penyerangan bisa leluasa berkali-kali melakukan aksi kriminal tanpa takut dengan hukum? Kami mendesak Polres Pelabuhan Belawan segera menangkap para pelaku. Kami punya bukti lengkap, setiap inci aksi mereka terekam," tegasnya.

Darmawan tidak hanya menuntut penangkapan pelaku di lapangan, tetapi juga mendesak polisi untuk mengungkap aktor di balik layar.

"Seret juga aktor intelektual dan penyandang dana para preman penyerang ini. Kepada Kapolda Sumut dan Kapolres Belawan, mohon atensinya. Negara tidak boleh kalah dan tunduk pada premanisme," tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, empat korban yang mengalami luka bacok dan hantaman benda tumpul masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit PT Pelindo, dengan pengamanan pihak kepolisian.