google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Juri Salah Dengar, MC Remehkan Siswa, Cerdas Cermat "Amatiran" di Kalbar yang Coreng Wajah MPR

Advertisement

Juri Salah Dengar, MC Remehkan Siswa, Cerdas Cermat "Amatiran" di Kalbar yang Coreng Wajah MPR

12 Mei 2026

Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita W.B, juri yang menyalahkan jawaban SMAN 1 Pontianak.

MAJELIS Permusyawaratan Rakyat (MPR) resmi menonaktifkan seluruh dewan juri dan pembawa acara (MC) dalam pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Langkah itu diambil sebagai buntut dari polemik penilaian yang dianggap tidak adil dan pernyataan MC yang dinilai meremehkan peserta.

“Terkait ramainya pemberitaan di media sosial mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan Dewan Juri dan MC pada kegiatan LCC ini,” tulis pernyataan resmi MPR RI melalui akun Instagram @mprgoid, Selasa (12/5).

Drama ini bermula saat babak final LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat digelar di Pontianak pada Sabtu (9/5). Kompetisi yang diikuti oleh sembilan SMA se-Kalbar tersebut menyisakan tiga sekolah di babak puncak, yakni SMAN 1 Pontianak (Regu C), SMAN 1 Sambas (Regu B), dan SMAN 1 Sanggau.

Persoalan meledak pada sesi rebutan saat juri melontarkan pertanyaan, "DPR dalam memilih anggota BPK, wajib memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?"

Regu C dari SMAN 1 Pontianak dengan cepat memberikan jawaban. “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” ujar salah satu siswi Regu C.

Juri kemudian menyatakan jawaban tersebut salah dan menjatuhkan hukuman pengurangan lima poin bagi Regu C.

Juri kemudian melemparkan pertanyaan kepada regu lain. Regu B dari SMAN 1 Sambas memberi jawaban yang identik secara kata per kata dengan Regu C. Namun juri justru menyatakan jawaban Regu B benar. “Inti jawaban sudah benar. Nilai sepuluh,” ucap juri.

Siswa dari Regu C langsung melayangkan protes keras. “Izin, kami tadi menjawabnya sama seperti Regu B,” tegas peserta Regu C. Namun, juri berkelit dengan dalih Regu C dianggap tidak menyebutkan unsur 'pertimbangan DPD'.

Meski Regu C membantah dan meminta audiens menjadi saksi, juri tetap pada keputusannya. Hasil akhir perlombaan pun tidak berubah.

Minyak semakin menyiram api ketika pembawa acara, Shindy Lutfiana, menanggapi keberatan para siswa dengan kalimat yang dianggap "gaslighting. Di tengah suasana yang tegang, Shindy melontarkan celetukan, “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja.”

Pernyataan ini sontak memicu kemarahan karena dianggap meremehkan fakta dan mencederai integritas kompetisi. Shindy sendiri akhirnya muncul di media sosial dan meminta maaf secara terbuka pada Selasa (12/5).

“Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf atas ucapan saya, terutama yaitu 'mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja' yang seharusnya tidak patut saya sampaikan,” ujar Shindy.

Ia mengaku menyesal karena pernyataannya telah melukai perasaan peserta dari SMAN 1 Pontianak, para guru pendamping dan masyarakat Kalimantan Barat.

Selain menonaktifkan personel yang terlibat, MPR RI menyatakan permohonan maaf atas kelalaian teknis yang menyebabkan polemik ini. MPR menegaskan bahwa pembinaan generasi muda melalui LCC harus menjunjung tinggi sportivitas, objektivitas dan keadilan.

Ke depannya, MPR berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis lomba.

“Termasuk mekanisme penilaian, sistem verifikasi jawaban peserta, dan tata kelola keberatan dalam perlombaan agar pelaksanaannya semakin baik, transparan, dan akuntabel,” tulis pernyataan tersebut.

Peristiwa ini menjadi catatan merah bagi kompetisi bergengsi yang bertujuan menanamkan nilai konstitusi. Namun justru tersandung masalah profesionalisme dalam pelaksanaannya.