Jonny Sihombing.
ANTARAsatu.com | DAIRI - Rumah sakit seharusnya menjadi ruang tenang untuk memulihkan raga. Namun bagi Jonny Sihombing, 65, Ruang Flamboyan di RSUD Sidikalang justru berubah menjadi tempat yang mencekam.
Alih-alih mendapat penjelasan medis yang menyejukkan, warga Desa Parbuluan ini mengaku justru "kena mental" akibat ulah oknum dokter.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu (10/5) ini mendadak viral setelah Jonny memutuskan untuk Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS).
Ia memilih angkat kaki dari rumah sakit meski kondisinya belum pulih benar. Alasannya satu, ia trauma dibentak oleh dokter spesialis bedah berinisial EM saat sesi visite.
Jonny masuk ke RSUD Sidikalang sejak Kamis (7/5) karena infeksi dan gatal di kaki. Namun, ia merasa ada yang janggal dengan prosedur yang diterimanya.
"Aneh menurut saya, kaki saya yang sakit, tetapi dada yang dirontgen. Hasilnya juga tidak diberitahu. Dokter datang malah marah-marah dengan suara keras," ujar Jonny dengan nada kecewa.
Ia menegaskan, status ekonomi pasien seharusnya tidak menjadi alasan bagi tenaga medis untuk bertindak kasar.
"Mau orang kaya atau miskin, namanya pasien tidak bisa dibentak-bentak. Saya di sini bukannya mau sembuh, malah makin parah karena ketakutan," tambahnya.
Nasib serupa dialami pasien lain bermarga Nainggolan yang berada di satu ruangan. Akibat menyaksikan dan mendengar nada tinggi sang dokter, tekanan darahnya langsung melonjak drastis karena panik.
Menanggapi kegaduhan ini, pihak RSUD Sidikalang angkat bicara. Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Medik Lestina Sianturi membenarkan adanya insiden nada tinggi tersebut.
Namun ia melontarkan perspektif berbeda. Menurutnya, dokter EM merasa kesulitan melakukan pemeriksaan karena ruang perawatan disesaki oleh keluarga pasien yang menjenguk.
"Dokter menjelaskan bahwa terlalu banyak keluarga di ruangan bisa menjadi pembawa kuman. Beliau menyarankan jika ingin ramai-ramai menjenguk, sebaiknya saat pasien sudah di rumah," katanya.
Lestina juga mengklaim, berdasarkan laporan perawat, dokter tersebut sudah dua kali meminta maaf. Namun, klaim permintaan maaf ini dibantah keras oleh pihak keluarga pasien yang merasa tidak pernah menerima ucapan maaf secara langsung.
Ketegangan ini berakhir dengan keputusan pahit. Tepat pukul 16.45 WIB, Jonny Sihombing resmi keluar dari RSUD Sidikalang.
Ia lebih memilih merawat kakinya yang masih membengkak di rumah daripada harus berhadapan kembali dengan pelayanan yang dianggapnya tidak manusiawi.
Kasus ini menjadi potret buram komunikasi antara tenaga medis dan pasien. Di tengah upaya pemerintah meningkatkan standar layanan kesehatan, insiden di RSUD Sidikalang ini menunjukkan bahwa keramahan (bedside manner) seorang dokter sama pentingnya dengan resep obat yang diberikan.
Bagi Jonny dan pasien lain, luka di kaki mungkin bisa sembuh. Namun bekas bentakan di ruang perawatan akan menetap lebih lama sebagai trauma.
Sumber: mistar.id
