Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Nilai tukar rupiah ambruk ke level Rp17.525 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5). Analis ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menyebut level tersebut menjadi rekor terendah rupiah sepanjang sejarah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini mencetak sejarah level terendahnya,” kata Gunawan, di Medan.
Menurut dia, pelemahan rupiah dipicu kombinasi tensi geopolitik global dan ekspektasi kenaikan inflasi AS. Pasar, kata dia, kini menanti rilis data inflasi AS yang diproyeksikan naik di atas 3,5% secara tahunan atau year on year.
Kenaikan inflasi tersebut dinilai akan memperkuat spekulasi pasar terhadap kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed yang cenderung hawkish.
“Laju tekanan inflasi AS yang naik akan mendorong spekulasi kebijakan suku bunga The Fed,” ujarnya.
Ia mengatakan tekanan terhadap rupiah turut memukul pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditutup melemah 0,68 persen di level 6.858,899.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat bergerak di zona hijau dan diperdagangkan dalam rentang 6.762 hingga 6.977. Pelemahan IHSG disebut sejalan dengan koreksi mayoritas bursa saham Asia.
Selain sentimen negatif pasar Asia, tekanan rupiah juga memperburuk pelemahan IHSG. Setelah sempat menyentuh Rp17.525 per dolar AS, rupiah akhirnya ditutup melemah di kisaran Rp17.490 per dolar AS.
Di sisi lain, harga emas dunia turut terkoreksi ke level US$4.700 per ons troy atau sekitar Rp2,65 juta per gram.
Gunawan mengatakan pelemahan harga emas dipengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi setelah inflasi meningkat di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia akibat krisis di Selat Hormuz.
