google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Rupiah Loyo, Harga Daging dan Telur Bakal Melejit

Advertisement

Rupiah Loyo, Harga Daging dan Telur Bakal Melejit

16 April 2026

 

Ilustrasi.

ANTARAsatu.com | MEDAN - Badai pelemahan nilai tukar rupiah mulai merembet ke urusan dapur masyarakat. Melemahnya mata uang garuda yang kini bertengger di level Rp17.130 per dolar AS, ditambah lonjakan harga plastik, mulai mencekik industri pakan ternak.


Jika tak segera dimitigasi, kenaikan harga daging dan telur tinggal menunggu waktu. Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengungkapkan, kenaikan harga pakan ternak di tingkat pedagang sudah mulai terasa.

Berdasarkan pantauan lapangan, harga pakan melompat di kisaran Rp200 hingga Rp500 per kilogram. Kenaikan harga pakan ini dipicu oleh pelemahan rupiah yang mendorong pembengkakan biaya impor.

"Komponen terbesar pembentuk harga pakan, seperti bungkil kedelai, sangat bergantung pada nilai tukar," ujar Gunawan, Kamis (16/4).

Lonjakan biaya produksi ini diprediksi akan menciptakan efek domino pada komoditas sumber protein. Harga pokok produksi (HPP) untuk telur ayam, daging ayam, sapi, bebek, hingga daging babi berpotensi terkerek naik mengikuti mahalnya biaya pakan dan material pembungkus (plastik).

Meski demikian, Gunawan mencatat bahwa kenaikan harga di tingkat konsumen tidak terjadi secara instan. Sebagai contoh, harga sapi bakalan sebenarnya sudah melonjak sekitar 9 persen sejak pecahnya konflik Iran-Amerika Serikat.

Namun, di pasar tradisional, harga daging sapi masih tertahan di angka Rp135.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Padahal, secara hitungan ekonomi di level pedagang besar, harga idealnya sudah menyentuh Rp140.000 hingga Rp150.000 per kilogram.

Lantas, mengapa harga di pasar belum meledak? Menurut Gunawan, para pedagang saat ini sedang berada dalam posisi dilematis. Mereka memilih untuk "menelan" kerugian demi menjaga loyalitas pelanggan.

Pedagang sangat memahami risiko. Jika harga dipaksakan naik sekarang, mereka berpeluang kehilangan pelanggan dan omzet menurun drastis.

"Mereka lebih memilih bertahan sambil memantau situasi global yang sangat dinamis," tambahnya.

Gunawan juga menyinggung tensi geopolitik di Timur Tengah yang menjadi faktor liar bagi kinerja rupiah dan harga bahan baku produksi kedepannya. Ia pun mewanti-wanti pemerintah agar tidak tinggal diam melihat situasi ini.

"Pemerintah sebaiknya melakukan mitigasi sejak dini untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga protein di masa mendatang. Jangan sampai daya beli masyarakat rontok karena terlambat merespons kenaikan HPP ini," tutupnya.