google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Rupiah Terkapar di Level 17.000, Beban BBM kian Menghantui

Advertisement

Rupiah Terkapar di Level 17.000, Beban BBM kian Menghantui

10 April 2026

 

Ilustrasi.

ANTARAsatu.com MEDAN - Tekanan terhadap mata uang Garuda kian nyata. Pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026), nilai tukar Rupiah terkapar di level 17.085 per dolar AS.

Mata uang RI bahkan sempat terseok lebih dalam hingga menyentuh level 17.120 sebelum akhirnya sedikit memangkas kerugian di akhir sesi.

Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai pelemahan ini merupakan dampak dari kombinasi sentimen negatif yang datang bertubi-tubi. Faktor eksternal menjadi pemicu utama yang membuat otot Rupiah tak berdaya.

"Tensi geopolitik yang kembali memanas di tingkat global telah membuat Rupiah terpuruk terhadap dolar AS. Investor saat ini cenderung menghindari risiko," ujarnya, di Medan.

Namun, lanjut dia, ancaman bukan hanya datang dari luar. Dari dalam negeri, pelaku pasar juga tengah memasang mata dengan ketat terhadap kesehatan fiskal pemerintah.

Fokus utama tertuju pada besarnya potensi defisit anggaran akibat kebijakan pemerintah yang masih menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah ini diambil di tengah tren harga minyak mentah dunia yang mulai kembali "mendidih" dan mendekati level psikologis US$ 100 per barel.

Saat ini, minyak mentah ditransaksikan di kisaran US$ 96 hingga US$ 98 per barel. Gunawan mengatakan, meyakini pasar akan terus memantau ketat bagaimana pemerintah mengelola defisit ini.

"Pelaku pasar memantau besaran defisit selama pemerintah menahan kebijakan untuk menaikkan harga BBM di tengah lompatan harga minyak mentah dunia," katanya.

Berbanding terbalik dengan nasib Rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru tampil perkasa. Indeks domestik ditutup menguat signifikan 2,07% ke level 7.458,496.

Saham-saham blue chip seperti BBRI, BBCA dan BMRI menjadi motor penggerak, dibuntuti oleh emiten potensial seperti CUAN dan PTRO.
Geliat di bursa saham ini seolah mengabaikan bara konflik di Timur Tengah yang masih menyala.

Angin dari Washington mengenai rencana dialog gencatan senjata dengan Lebanon dinilai menjadi amunisi positif. Menjaga optimisme para pemburu saham di tanah air.

Di sisi lain, harga emas dunia terpantau sedikit melandai ke level US$ 4.748 per ons troy, atau setara dengan Rp 2,62 juta per gram. Tekanan yang dialami harga emas ini dinilai sejalan dengan penguatan harga yang cukup signifikan sejauh ini.