Ketua DPRD Dairi Sabam Sibarani.
ANTARAsatu.com | DAIRI - Ruang lobi Gedung DPRD Dairi yang biasanya tenang mendadak riuh pada Rabu (15/4). RS, seorang Kepala Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Dairi, melangkah mantap menyusuri selasar gedung wakil rakyat tersebut.
Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa yang mendalam. Ia datang bukan untuk membawa proposal pembangunan, melainkan menuntut harga diri yang merasa diinjak-injak.
RS melabrak gedung parlemen daerah itu demi meminta klarifikasi langsung dari Ketua DPRD Dairi Sabam Sibarani. Pangkal persoalannya adalah satu kata kasar yang terlontar dalam sambungan telepon: "Bodat".
Bodat adalah kata dalam bahasa Batak Toba yang secara harfiah berarti monyet atau kera.
Ketegangan ini bermula dari niat RS untuk memperbaiki fasilitas sekolahnya. Bersama kepala desa setempat, RS menghubungi Sabam Sibarani melalui sambungan telepon untuk membahas usulan pembangunan sanitasi.
Awalnya, percakapan berlangsung normatif. Sabam meminta agar proposal segera disusun dan ditandatangani oleh RS selaku kepala sekolah dan pihak desa.
Namun, suasana berubah drastis saat RS memperkenalkan identitasnya. Entah apa pemicunya, RS mengklaim sang Ketua DPRD justru melontarkan makian tersebut.
"Saya datang untuk klarifikasi. Ketua DPRD harus menjelaskan alasan saya disebut seperti itu. Harus ada penjelasan yang jelas kepada publik," tegas RS, lansir mistar.id.
Yang membuat luka RS kian perih adalah fakta bahwa hinaan tersebut tidak terjadi di ruang privat. Saat menelepon, RS menyalakan fitur pengeras suara (loudspeaker) sehingga suara lantang Sabam yang menyebutnya "bodat" terdengar jelas oleh para guru yang berada di lokasi.
"Saya kecewa. Tidak etis seorang pejabat berbicara seperti itu. Apalagi terdengar oleh banyak orang karena telepon saya saat itu menggunakan pengeras suara," tuturnya dengan nada getir.
Baginya, ucapan tersebut bukan sekadar serangan pribadi, melainkan penghinaan terhadap profesi tenaga pendidik. Kekesalan RS juga diamini oleh kepala desa yang mendampinginya saat menelepon.
Sang kades membenarkan adanya ucapan tidak pantas tersebut dan menyayangkan sikap arogan seorang pejabat publik di balik telepon.
Sayangnya, kedatangan RS ke gedung dewan berujung antiklimaks, sosok yang dicarinya tak ada di tempat. Berdasarkan keterangan staf Sekretariat Dewan, Sabam Sibarani tengah melakukan perjalanan dinas ke Jakarta.
