google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 IHSG Anomali Sendirian, Saham BRI hingga Bank Mandiri Kompak Tumbang

Advertisement

IHSG Anomali Sendirian, Saham BRI hingga Bank Mandiri Kompak Tumbang

15 April 2026

 



ANTARAsatu.com | MEDAN - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan napas panjangnya pada penutupan perdagangan Rabu (15/4). Sempat pamer kekuatan dengan mendaki ke level 7.773, IHSG justru terjun bebas dan parkir di zona merah, melemah 0,68% ke posisi 7.623,586.

Gerak lesu bursa domestik ini tergolong anomali. Di saat mayoritas bursa saham di kawasan Asia merayakan penguatan, IHSG justru memilih jalan sunyi dengan bergerak melawan arus pasar regional.

Pelemahan indeks itu tak lepas dari rontoknya harga saham sejumlah emiten raksasa yang selama ini menjadi tulang punggung bursa. Berdasarkan data perdagangan, saham-saham perbankan kelas berat (big banks) hingga sektor energi tampak tak bertenaga.

Beberapa emiten yang terpantau tumbang dan menyeret indeks ke bawah di antaranya BBCA (Bank Central Asia), BBRI (Bank Rakyat Indonesia), BMRI (Bank Mandiri), BUMI (Bumi Resources) dan PTRO (Petrosea).

Langkah IHSG kian berat akibat performa nilai tukar Rupiah yang loyo. Mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.130 per US Dolar. Kondisi ini cukup ironis, mengingat indeks dolar AS (DXY) sebenarnya sedang tertekan di level 98,2.

Rupiah gagal memanfaatkan momentum pelemahan greenback tersebut untuk balik melawan.
Di sisi lain, ketidakpastian global kian keruh seiring melonjaknya harga minyak mentah dunia jenis Brent yang kini bertengger di US$96 per barel.

Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar atas aksi blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat.

"Aksi blokade ini memicu kekhawatiran pasokan, yang secara otomatis mengerek harga energi dan menekan pasar ekuitas berkembang," ujar Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Medan, Rabu 15/4).

Meski dibayangi sentimen negatif, menurut dia, pasar masih menaruh harapan pada rencana negosiasi ulang antara Iran dan Amerika Serikat. Jika kesepakatan tercapai, tensi geopolitik diharapkan mereda, yang berpotensi menekan harga minyak kembali ke level normal dan memberi ruang bagi harga emas untuk menguat.

Untuk saat ini, investor dinilainya masih cenderung bersikap defensif. Harga emas dunia sendiri masih bertransaksi di kisaran US$4.801 per ons troy, atau setara dengan Rp2,65 juta per gram.

"Itu mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar di tengah fluktuasi ekonomi global yang makin dinamis," pungkas Gunawan.