google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Filipina Incar Boramae, Indonesia Terancam Kehilangan Antrean Jet Tempur

Advertisement

Filipina Incar Boramae, Indonesia Terancam Kehilangan Antrean Jet Tempur

11 April 2026

 


DRAMA negosiasi panjang pembagian biaya (cost-sharing) jet tempur KF-21 Boramae antara Jakarta dan Seoul memasuki babak akhir yang krusial. Di tengah kepastian Indonesia mendapat satu unit prototipe, muncul ancaman baru dari Manila yang siap menyalip di tikungan produksi massal.

Anggota parlemen Korea Selatan, Rep. Kang Dae-sik, mengonfirmasi bahwa kedua negara telah menyepakati paket "transfer nilai" yang disesuaikan. Berdasarkan dokumen Defense Acquisition Program Administration (DAPA), valuasi paket ini mencapai 600 miliar won atau setara uS$398 juta.

Angka tersebut tidak sekadar label harga untuk satu unit pesawat. Rinciannya mencakup 350 miliar Won untuk nilai fisik satu unit jet tempur prototipe kursi tunggal (single-seat) dan 250 miliar Won untuk biaya transfer dokumen teknis, data uji coba dan dukungan integrasi sistem.

Kesepakatan ini menjadi jalan tengah setelah kontribusi finansial RI dipangkas dari rencana awal 20% menjadi hanya sekitar 600 miliar Won. Sebagai konsekuensi, Seoul melakukan penyesuaian pada level transfer teknologi yang diberikan kepada teknisi Indonesia.

Adapun unit yang dijanjikan untuk RI bukanlah pesawat sembarangan. Prototipe nomor 5 merupakan tulang punggung dalam berbagai uji verifikasi krusial.

Termasuk sukses menjalankan misi pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling). Namun, ada syarat mutlak, Jakarta harus melunasi seluruh komitmen kontribusi pada Juni 2026 sebelum pesawat dan gunungan data teknologi tersebut mendarat di tanah air.

"Pelunasan sisa kontribusi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan kunci untuk mengunci posisi Indonesia dalam rantai distribusi KF-21," tulis laporan internal yang memantau proyek tersebut, lansir indomiliter.com.

Masalahnya, saat RI masih berkutat pada urusan pelunasan prototipe, muncul Filipina muncul sebagai pesaing agresif. Melalui program modernisasi militer Horizon 3, Manila secara resmi membidik KF-21 Boramae untuk memperkuat pertahanan udaranya.

Kondisi ini menciptakan dinamika "persaingan antrean" yang panas. Yang mana Korea Aerospace Industries (KAI) melihat Filipina sebagai pasar potensial yang sangat menggiurkan karena keberhasilan operasional armada FA-50PH sebelumnya.

Terlebih, Filipina sudah meminta pengiriman unit mulai tahun 2027 hingga 2029. Jika Manila menandatangani kontrak pembelian massal lebih awal pada tahun 2026 ini, jadwal pengiriman 16 unit pesanan RI berisiko besar tergeser ke urutan belakang.

Filipina diprediksi akan mengakuisisi 12 hingga 24 unit untuk melengkapi ekosistem tempur udara mereka yang berbasis teknologi Korsel. Jika Jakarta tidak segera bergerak cepat mengamankan kontrak produksi massal pasca-pelunasan Juni mendatang, status RI sebagai negara pertama di luar Korsel yang mengoperasikan skadron jet generasi 4.5 ini bisa saja direbut oleh Filipina.