google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Harga Gabah Meroket, Mengapa Harga Beras Justru Bisa Turun?

Advertisement

Harga Gabah Meroket, Mengapa Harga Beras Justru Bisa Turun?

06 April 2026

 


ANTARAsatu.com | MEDAN - Di tengah bayang-bayang kenaikan biaya produksi, sebuah fenomena menarik tengah terjadi di pasar pangan Sumut. Di saat harga gabah di tingkat petani sedang meroket hingga menyentuh level tertinggi, harga beras di pasar justru menunjukkan tren melandai.


Anomali ini memicu pertanyaan, apa yang sebenarnya sedang terjadi di rantai pasok pangan?


Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras jenis medium di Sumut mengalami penurunan tipis sekitar Rp100 hingga Rp150 per kilogram. Saat ini, komoditas pokok tersebut ditransaksikan di kisaran Rp14.850 hingga Rp15.300 per kilogram, turun dari posisi awal April yang sempat menyentuh Rp15.450.


Sedangkan harga Gabah Kering Panen (GKP) kini bertengger di angka Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram. Bahkan, untuk Gabah Kering Giling (GKG), harganya sudah menembus Rp8.700 per kilogram.


Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai kondisi ini sebagai anomali yang dipicu oleh intervensi kebijakan. Menurutnya, di sisi hulu, para petani sebenarnya sedang menikmati "angin segar".


Kenaikan harga di tingkat petani ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan di Sumut yang naik 0,73 persen ke level 105,76.


"Kenaikan NTP tersebut menggambarkan bagaimana kenaikan harga gabah mendorong kenaikan indeks harga yang diterima oleh petani sebesar 1,92 persen di bulan Maret secara bulanan," ujar Gunawan.


Secara teoretis, jika mengikuti harga keekonomian gabah yang sudah mahal tersebut, harga beras di pasar seharusnya sudah melambung ke angka Rp16.000 per kilogram. Namun, kenyataan di pasar berkata lain.


Lantas, apa yang menahan laju harga beras? Menurut Gunawan, langkah pemerintah menggelontorkan bantuan sosial (bansos) beras secara masif menjadi faktor kunci. Intervensi ini terbukti menjadi "rem pakem" yang menekan permintaan (demand) di pasar reguler.


"Bansos menjadi faktor yang membuat beras sulit naik meskipun musim panen padi sudah berakhir di wilayah Sumut," tuturnya.


Ketika jutaan keluarga mendapat pasokan beras dari pemerintah, ketergantungan mereka terhadap pasar berkurang sehingga tekanan harga pun melunak.


Meski demikian, Gunawan mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. Musim kering di sebagian wilayah tanah air berisiko memangkas produksi nasional.


Ketenangan ini diprediksi hanya bersifat sementara, dengan potensi kenaikan harga yang mengintai di masa depan akibat gangguan pasokan dan cuaca ekstrem.


"Kunci keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan harga terletak pada sejauh mana mereka berhasil menyediakan pasokan di tengah ancaman penurunan produksi akibat cuaca yang tidak mendukung," tambah Gunawan.


Selain faktor domestik, dia juga menyoroti tensi geopolitik di Timur Tengah yang bisa menyeret kenaikan harga pupuk, insektisida, maupun herbisida. Ia menyarankan pemerintah untuk ekstra hati-hati terhadap potensi lonjakan harga yang dipicu oleh masalah suplai ke depan.


"Jangan sampai penurunan harga hari ini justru menjadi tenang sebelum datangnya badai krisis pangan," pungkasnya.