google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Imbas Agresi AS-Israel ke Iran, Harga Daging Bakal Meroket Tajam

Advertisement

Imbas Agresi AS-Israel ke Iran, Harga Daging Bakal Meroket Tajam

08 April 2026

 

Ilustrasi.

ANTARAsatu.com | MEDAN - Eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul agresi Amerika Serikat dan Israel ke Iran terus mengirim gelombang kejut ke pasar global. Bukan sekadar isu geopolitik di atas kertas, dampak nyata dari panasnya suhu di Teluk bahkan akan mendarat di dapur-dapur masyarakat Indonesia, salah satunya harga daging sapi yang meroket tajam.

Lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di atas US$100 per barel menjadi pemicu utama. Bagi negara-negara tanpa skema subsidi BBM, penyesuaian harga energi dilakukan secara kilat.

Meski pemerintah sejauh ini masih menahan harga BBM bersubsidi, "benteng" ini tidak otomatis melindungi RI dari inflasi impor. Kenaikan biaya operasional di negara-negara produsen pangan, akibat mahalnya bahan bakar, memaksa mereka mengerek harga jual komoditas yang diekspor ke tanah air.

Kondisi ini mulai terasa di sektor peternakan, khususnya pasokan sapi bakalan dari Australia. Berdasarkan pantauan di lapangan dan informasi dari para peternak di wilayah Sumatra Utara, harga sapi bakalan diperkirakan melonjak hingga Rp71.000 per kilogram hingga sampai di lokasi tujuan.

Angka ini menciptakan gap yang mengkhawatirkan. Saat ini, masih ditemukan peternak yang menjual sapi hidup di kisaran Rp58.000 per kilogram. Padahal, sebelum Idulfitri lalu, harganya masih berada di angka Rp55.000 per kilogram.

"Peternak saat ini berada di posisi sulit. Menjual dengan harga lama berarti menanggung beban kenaikan biaya sendiri, yang jelas berpotensi merugikan keberlanjutan usaha mereka," ungkap Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Rabu (8/4/2026).

Jika kalkulasi ini terus berlanjut tanpa intervensi, rantai pasok akan mengalami pergeseran harga yang signifikan. Di rumah pemotongan hewan (RPH), harga diprediksi naik dari Rp120.000 menjadi Rp140.000 per kilogram.

Dan pada level konsumen, seharusnya terdapat kenaikan sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per kiligram dari harga normal. Namun, pedagang di pasar tradisional kini menghadapi dilema besar.

Mengingat sifat harga daging sapi yang sangat elastis terhadap daya beli dan menaikkan harga secara drastis bisa membuat dagangan mereka sepi peminat. Bahkan daging sapi bukan puncak dari gunung es.

Ketergantungan Indonesia pada impor beberapa komoditas, lanjut Gunawan, membuat "tsunami" harga ini berpotensi merembet ke bahan pangan lain. Seperti kacang-kacangan (kedelai), pakan ternak (jagung impor) serta komoditas pangan olahan lainnya.

Kenaikan harga minyak dunia akibat agresi AS-Israel dan Iran ini menjadi bukti nyata betapa rapuhnya ketahanan pangan domestik terhadap gejolak global. Jika ketegangan di Timur Tengah tak segera mereda, masyarakat perlu bersiap merogoh kocek lebih dalam demi memenuhi kebutuhan protein di meja makan.