Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Agresi AS-Israel ke Iran memicu gelombang kenaikan harga pupuk global yang diprediksi bakal menyeret harga komoditas pangan lokal. Terutama cabai dan bawang merah ke level yang lebih tinggi.
Meski tensinya belum menyamai guncangan saat awal perang Rusia-Ukraina pada 2022 lalu, tren kenaikan harga pupuk saat ini dinilai sudah cukup membuat petani mengelus dada.
"Sebagai gambaran, harga pupuk Urea non-subsidi saat ini melonjak ke angka Rp 11.000 per kg," ungkap Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Minggu (12/4/2026).
Angka itu dilihat sudah melompat jauh dari harga sebelum konflik yang masih di kisaran Rp 7.000 per kg. Kenaikan serupa juga terjadi pada pupuk NPK non-subsidi yang kini ditransaksikan seharga Rp 15.600 per kg, serta pupuk KCL yang menembus Rp 13.000 per kg.
Tidak hanya pupuk, ongkos produksi petani pun kian membengkak lantaran harga herbisida, insektisida, hingga plastik mulsa turut merangkak naik. Berdasarkan analisis harga keekonomian yang mengambil sampel petani di Sumut, kenaikan biaya produksi ini otomatis mengerek "harga wajar" di pasar.
Berikut adalah proyeksi perubahan harga di level konsumen:
- Cabai merah, dari semula Rp 27.000 - Rp33.000 naik menjadi Rp 30.000 - Rp36.000 per kg.
- Cabai rawit, dari semula Rp 32.000 - Rp 38.000 naik menjadi Rp 34.000 - Rp 40.000 per kg.
- Bawang merah, dari semula Rp 32.000 - Rp 36.000 naik menjadi Rp 35.000 - Rp 39.000 per kg.
Angka tersebut menurut Gunawan merupakan harga wajar yang sudah termasuk asumsi keuntungan petani. Namun belum mempertimbangkan ongkos panen yang berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 130.000 per orang untuk sekali panen.
Tingginya volatilitas harga sarana produksi tani ini, lanjut dia, sangat bergantung pada dinamika perang yang membentuk harga komoditas di pasar global. Jika konflik terus berlanjut, maka ketidakpastian harga di tingkat petani akan semakin tinggi.
Karena itu lemerintah diharapkannya segera melakukan langkah mitigasi yang tepat. Pasalnya, jika harga di tingkat petani ditekan terlalu rendah tanpa memperhatikan kenaikan modal, maka petani terancam merugi.
Kerugian di tingkat produsen ini justru berisiko memicu kelangkaan barang di masa depan. Yang pada akhirnya akan memukul balik kantong konsumen melalui lonjakan harga yang lebih ekstrem.
