Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Di tengah upaya pemulihan ekonomi masyarakat, ganjalan baru muncul dari sektor hulu kemasan. Harga plastik pembungkus di pasar terpantau melonjak drastis hingga mencapai 85%.
Kondisi ini membuat para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner, terjepit. Mereka berada dalam dilema antara menjaga margin keuntungan atau mempertahankan pelanggan.
Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengungkapkan, temuan di lapangan menunjukkan lonjakan harga yang sangat signifikan. Plastik pembungkus yang semula dibanderol Rp27 ribu per kg, kini meroket hingga menyentuh angka Rp50 ribu per kg.
"Kenaikan ini memang tampak kecil jika dilihat per satuan bungkus, namun bagi pelaku UMKM kuliner, ini adalah beban tambahan yang nyata," ujarnya, di Medan, Rabu (15/4/2026).
Meski plastik merupakan komponen penting dalam pengemasan, kontribusinya terhadap biaya produksi total sebenarnya tidak terlalu dominan bagi sebagian besar produk UMKM. Namun, psikologi pasar berkata lain.
Para pedagang kini mulai mengeluhkan biaya operasional yang membengkak.
Banyak pelaku usaha yang sudah berencana mengerek harga jual produk mereka, tetapi hingga kini rencana itu tersebut masih tertahan di laci meja.
"Mereka belum berani mengeksekusi kenaikan harga karena ada kekhawatiran besar akan penurunan minat beli masyarakat," tambah Gunawan.
Alih-alih menaikkan harga secara langsung, para pedagang kini lebih memilih jalur efisiensi yang pahit. Gunawan memprediksi akan ada dua skenario yang diambil pedagang untuk bertahan hidup
Pertama, mengurangi kuantitas atau kualitas barang dagangan (porsi lebih kecil). Kedua, mengurangi penggunaan tenaga kerja untuk menekan biaya operasional.
Lebih lanjut, ada anomali menarik yang disoroti oleh Gunawan. Menurut hitungannya, secara matematis kenaikan harga plastik sebesar 85% sebenarnya hanya menambah beban ongkos produksi sekitar Rp95 hingga Rp100 per kg produk.
Namun, di level pedagang eceran, kenaikan harga jarang sekali mengikuti angka presisi tersebut.
"Tidak mungkin pedagang hanya menaikkan harga sebesar 100 rupiah. Kalaupun naik, minimal pasti Rp500 atau bahkan ekstremnya Rp1.000," kata dia.
Faktor utamanya bukan sekadar keserakahan, tetapi kepraktisan transaksi. Minimnya uang receh di pasar membuat pembulatan harga menjadi jalan pintas.
Situasi ini menurut Gunawan juga berpotensi menciptakan tekanan inflasi berlebih. Yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika rantai pasok plastik tetap stabil.
Dampak itu diprediksi akan terasa paling berat pada sektor akomodasi makanan dan minuman. Terutama produsen minyak, makan atau air minum kemasan yang sangat bergantung pada material plastik.
Jika tidak ada intervensi atau stabilisasi harga di tingkat produsen plastik, "dilema plastik" ini dipastikannya akan segera sampai ke dompet konsumen akhir.
