ANTARAsatu.com | MEDAN - Bank Indonesia mendongkrak suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% dalam rapat kebijakan moneter teranyar. Meski pasar merespons positif dengan penguatan tajam IHSG dan rupiah, posisi pasar keuangan domestik dinilai belum sepenuhnya aman dari ancaman volatilitas global.
Pada penutupan perdagangan Selasa (9/6), IHSG tercatat melesat signifikan sebesar 7,57% ke level 5.746,64. Setali tiga uang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga ditutup menguat tajam ke posisi Rp18.050.
Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai langkah BI menaikkan suku bunga acuan sebenarnya sudah diantisipasi dan terbaca oleh para pelaku pasar sebagai jangkar untuk menahan kejatuhan mata uang Garuda. Namun, ia mengingatkan agar optimisme hari ini tidak membuat otoritas lengah.
"BI telah mengambil respons moneter dengan menaikkan bunga acuannya dan dampaknya sangat terasa di mana pasar merespons positif," ungkapnya, di Medan.
Meski demikian dia menilai pasar belum sepenuhnya aman dari potensi tekanan di masa mendatang. Beberapa risiko besar masih mengintai, khususnya dampak dari eskalasi perang geopolitik yang kian memanas belakangan ini.
Gunawan menegaskan, penguatan IHSG dan rupiah jangan sampai disalahtafsirkan bahwa BI bisa terus-menerus menggunakan instrumen suku bunga tinggi sebagai senjata tunggal untuk menyelamatkan pasar keuangan. Menurutnya, jika bank sentral global seperti Federal Reserve (The Fed) ikut mengerek suku bunga mereka, efek pengetatan moneter BI bisa menjadi tidak bertenaga.
"Pendapat yang mengira BI tinggal menaikkan suku bunga lagi jika rupiah melemah itu keliru. Pelaku pasar ke depan akan tetap fokus pada kebijakan fiskal pemerintah yang akan menjadi penentu arah IHSG maupun rupiah," katanya.
Oleh karena itu, menurut dia, bauran kebijakan antara moneter dan fiskal harus berjalan beriringan. Pemerintah dituntut merancang kebijakan fiskal yang hati-hati agar tidak menimbulkan gejolak baru di pasar.
"Yang perlu dipastikan saat ini adalah fiskal kita mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, dan yang terlebih penting bisa menekan angka impor. Dengan begitu, rupiah tidak mengalami pelemahan hebat yang berisiko memicu krisis yang lebih luas," tambahnya.
Selain mencermati pergerakan saham dan rupiah, Gunawan menyebut pasar obligasi akan menjadi fokus perhatian utama para investor sepanjang bulan Juni ini. Langkah pemerintah dalam menyerap likuiditas valuta asing (valas) lewat penerbitan surat berharga akan menjadi krusial.
Keberhasilan pemerintah dalam menyerap likuiditas valas lewat surat berharga berpeluang menciptakan kinerja rupiah yang lebih terkendali. Selama tensi geopolitik masih berkecamuk, potensi tekanan besar di sektor keuangan berpeluang berlanjut.
Di sisi lain, dari pasar komoditas, harga emas dunia terpantau ditransaksikan relatif stabil di level US$4.330 per ons troy, atau setara dengan kisaran Rp2,52 juta per gram. Menurut Gunawan, pergerakan harga emas domestik saat ini masih didominasi oleh dampak pelemahan dolar AS pada sesi perdagangan.
