ANTARAsatu.com | PEMATANGSIANTAR – Sore yang tenang di Kelurahan Pardomuan mendadak pecah oleh bunyi klakson panjang lokomotif CC 2029006. Namun bagi SD (45), peringatan nyaring dari kereta pengangkut BBM Pertamina itu tak pernah sampai ke telinganya.
Wanita malang tersebut mengembuskan napas terakhirnya tepat di lintasan rel PJKA, Jalan Tongkol Ujung, Kecamatan Siantar Timur, Minggu (22/3/2026) sore. Tubuhnya terpental ke sisi luar jalur rel setelah terkena hantaman keras kereta api yang tengah melaju dari arah Siantar menuju Medan.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 16.55 WIB ini menyisakan duka mendalam. Masinis berinisial FS sebenarnya telah berupaya memberikan peringatan berkali-kali melalui klakson lokomotif. Namun, posisi korban yang berada di tepi rel tidak bergeming sedikit pun.
"Kereta api sempat melakukan berhenti luar biasa (BLB) untuk memastikan kondisi rangkaian setelah insiden tersebut," ujar Plt Manager Humas KAI Divre I Sumut Anwar Yuli Prastyo, Selasa (24/3/2026).
Setelah dilakukan pemeriksaan cepat selama tiga menit, rangkaian gerbong kosong Pertamina itu kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 16.58 WIB. Meninggalkan lokasi yang dipenuhi warga dan petugas.
Tak lama setelah laporan diterima Bhabinkamtibmas, Tim Inafis Satuan Reskrim Polres Pematangsiantar dan personil Polsek Siantar Timur tiba di lokasi. Jenazah SD segera dievakuasi ke RSUD dr. Djasamen Saragih untuk proses visum.
Namun, di balik garis polisi dan riuhnya evakuasi, ada sebuah ketabahan yang luar biasa dari pihak keluarga. DPS (41), sepupu korban, menyatakan bahwa pihak keluarga sudah menerima peristiwa ini sebagai musibah murni.
"Keluarga sudah menerima dengan ikhlas karena korban memang memiliki keterbatasan pendengaran (kurang pendengar)," ujar PS Kasi Humas Polres Pematangsiantar, IPTU Agustina Triyadewi, menirukan pernyataan keluarga.
Keikhlasan ini diperkuat dengan surat pernyataan bermaterai yang menyatakan pihak keluarga tidak akan melakukan penuntutan hukum. Jenazah SD pun langsung diserahkan ke keluarga untuk disemayamkan di rumah duka, Jalan Patuan Anggi.
Tragedi ini kembali menjadi alarm bagi warga sekitar. Pihak KAI mengingatkan bahwa jalur rel adalah area terbatas dengan risiko tinggi yang bukan diperuntukkan bagi aktivitas warga.
"Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak berada di ruang manfaat jalur kereta api," tegas Anwar.
