Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat pada perdagangan Rabu (4/3). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk dan ditutup melemah tajam sebesar 4,57% ke level 7.577,064.
Aksi jual masif melanda hampir seluruh sektor, terutama pada emiten dengan kapitalisasi pasar besar (big caps). Sejumlah saham "blue chip" yang menjadi penopang indeks tercatat berguguran.
Emiten perbankan raksasa seperti BBCA, BMRI, dan BBRI kompak memerah. Tak hanya perbankan, pelemahan signifikan juga dialami oleh emiten sektor pertambangan dan telekomunikasi seperti BUMI, TINS, TLKM, hingga raksasa otomotif ASII.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin melihat keterpurukan pasar keuangan Tanah Air selaras dengan tren negatif di bursa Asia. Sentimen negatif yang terakumulasi akibat berkecamuknya perang akibat agresi militer AS-Israel ke Iran menjadi pusat kekhawatiran pelaku pasar.
"Konflik bersenjata ini memicu ketidakstabilan politik global, lonjakan harga minyak dunia, hingga meningkatnya laju inflasi," ungkapnya di Medan.
Eskalasi yang terus meningkat dikhawatirkan akan meluas ke wilayah lain sehingga membuat prospek ekonomi masa depan kian buram. Kondisi ini memicu tekanan besar pada kinerja pasar keuangan secara keseluruhan.
"Pasar komoditas seperti harga minyak, emas dan pangan juga terus melambung," imbuhnya.
Sejalan dengan kejatuhan IHSG, nilai tukar Rupiah turut mengalami volatilitas tinggi. Pada sesi pagi, Rupiah sempat terperosok hingga di atas Rp16.900 per US Dolar.
Meski sempat berbalik arah, mata uang Garuda tetap ditutup melemah di level Rp16.880 per US Dolar pada sore hari. Di sisi lain, harga emas dunia melambung ke kisaran US$5.183 per ons troy atau setara dengan Rp2,82 juta per gram.
Namun Gunawan menilai terdapat pergeseran menarik yang mana sebagian investor mulai beralih dari emas ke US Dolar. Penyebabnya, secara fundamental harga emas saat ini dinilai sudah terlalu mahal (overvalued).
Sementara US Dolar dianggap masih memiliki ruang penguatan di tengah ancaman inflasi tinggi dan potensi kebijakan moneter ketat (hawkish). Meski demikian, secara historis emas tetap dinilai lebih menguntungkan sebagai aset penyelamat (safe haven) jika ekonomi dunia berada dalam kondisi genting.
"Dinamika pasar masih akan berlanjut hingga ditemukan titik keseimbangan baru selama konflik geopolitik berlangsung," pungkas Gunawan.
