ANTARAsatu.com | TAPANULI SELATAN - Upaya penegakan hukum terhadap aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Mandailing Natal (Madina) memasuki fase krusial.
Tim gabungan Polda Sumut sedang mengevakuasi belasan alat berat dari lokasi tambang dengan pengawalan super ketat untuk mengantisipasi perlawanan dari kelompok terorganisir.
Komandan Satuan Brimob Polda Sumut Kombes Rantau Isnur Eka mengungkapkan, hingga Rabu (4/3), sebanyak 10 unit ekskavator telah berhasil dikeluarkan dari zona tambang. Evakuasi ini dilakukan di bawah pengamanan ratusan personel Brimob bersenjata lengkap.
“Setiap empat unit ekskavator dikawal oleh 90 hingga 150 personel, atau setara dengan tiga pleton," katanya, Kamis (5/3).
Pengamanan ketat ini, menurut dia, dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya penghadangan maupun perlawanan dari pihak-pihak yang tidak terima aktivitas ilegal ini ditertibkan.
Proses evakuasi menghadapi tantangan ganda, berupa medan yang berat dan ancaman keamanan. Jarak dari lokasi tambang di pinggir Sungai Batang Gadis menuju pemukiman warga membutuhkan waktu tempuh sekitar lima jam perjalanan.
Dengan kondisi jalan berlumpur, terjal dan bergelombang. Kondisi akses yang tidak dapat dilalui kendaraan pengangkut biasa, membuat alat berat terpaksa dikemudikan langsung oleh operator menembus hutan.
Kemudian diangkut menggunakan truk khusus (trado) menuju Markas Batalyon C Brimob di Sipirok. Ketegangan sempat memuncak pada Senin (2/3) lalu, ketika upaya petugas mengamankan dua alat berat sempat mendapat intervensi dari belasan pria bertubuh tegap.
Hal inilah yang memicu kepolisian mengerahkan ratusan personel Brimob bersenjata lengkap dalam operasi tersebut. Skala pengamanan yang masif ini juga berbanding lurus dengan nilai bisnis ilegal yang dihentikan.
Wakapolda Sumut Brigjen Pol Sonny Irawan sebelumnya membeberkan, aktivitas tambang emas ini ditaksir meraup omzet hingga Rp1,5 miliar per hari. Dengan perhitungan harga emas batangan lokal (cukim) yang mencapai Rp2,6 juta per gram.
Berdasarkan hasil penyelidikan, terdapat enam lubang tambang aktif. Yang mana tiap lubang dapat menghasilkan sekitar 100 gram emas per hari.
"Ada beberapa titik yang sudah beroperasi selama dua hingga tiga bulan terakhir," ungkapnya.
Aktivitas tambang ini awalnya terdeteksi di wilayah Madina, tetapi belakangan meluas ke Tapsel dengan hanya membelah aliran sungai. Hingga kini sebanyak total 14 unit ekskavator telah diamankan sebagai barang bukti.
Polisi juga menangkap 17 orang pekerja yang masih menjalani pemeriksaan dengan status sebagai saksi.
