google.com, pub-7586912727531913, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Waspadai Penimbun Pangan, Spekulan Mulai Manfaatkan Gejolak Perang Iran-AS

Advertisement

Waspadai Penimbun Pangan, Spekulan Mulai Manfaatkan Gejolak Perang Iran-AS

26 April 2026

Ilustrasi.

ANTARAsatu.com | MEDAN - Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) serta Israel belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi. Selain mengancam stabilitas keamanan global, rentetan dampak ekonomi dari konflik ini mulai membayangi ketahanan pangan nasional melalui ancaman inflasi tinggi.

Konflik yang memanas sejak pekan terakhir Februari ini telah memicu kenaikan harga berbagai komoditas global. Dampaknya kini mulai merembet ke sektor hulu produksi pangan di Indonesia.

Kenaikan harga plastik kemasan, pupuk, pestisida, hingga herbisida menjadi beban berat yang kini harus dipikul oleh petani dan peternak lokal. Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara Gunawan Benjamin memperingatkan, situasi ketidakpastian ini dapat membuka celah bagi para spekulan untuk mencari keuntungan tidak wajar.

Penimbunan barang dan manipulasi pasar menjadi risiko nyata yang dapat mempercepat lonjakan harga di tingkat konsumen sebelum waktunya. Spekulan sudah membaca situasi ini dan mereka bisa saja melakukan penimbunan atau memanipulasi distribusi.

"Sehingga harga bergejolak lebih cepat dari proyeksi awal," ujarnya, Minggu (26/4).

Oleh karena itu, peran Satgas Pangan dinilai sangat krusial saat ini. Satgas Pangan diharapkan lebih intensif melakukan pengawasan jalur distribusi untuk memastikan tidak ada pihak yang menahan stok pangan pokok.

Seperti beras, daging dan produk hortikultura di tengah melemahnya nilai tukar Rupiah. Data menunjukkan, kenaikan harga input produksi mulai dirasakan signifikan sejak pertengahan Maret.

Meski beberapa produsen makanan pabrikan masih menahan beban kenaikan harga plastik, tekanan pada sektor pangan pokok tidak terelakkan. Ditambah lagi dengan faktor pemberat lain, seperti pelemahan Rupiah yang  meningkatkan biaya impor bahan baku pertanian.

Kemudian kenaikan harga BBM dan LPG non-subsidi yang meningkatkan biaya logistik, serta gangguan Godzilla El Nino yang berpotensi menekan produktivitas tanaman hingga memicu gagal panen.

Karena itu pemerintah perlu segera melakukan langkah mitigasi untuk mencegah "ledakan" harga. Yang mana hal itu diprediksi akan mencapai puncaknya pada Mei hingga Juni mendatang.

Skenario buruk inflasi pangan ini hanya bisa diredam jika terjadi perdamaian di Timur Tengah atau adanya intervensi distribusi yang efektif dari pemerintah. Tanpa langkah taktis dalam satu hingga dua bulan ke depan, masyarakat harus bersiap menghadapi gelombang kenaikan harga pangan.