Ilustrasi.
ANTARAsatu.com | MEDAN - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa (10/3), meski sejumlah indikator keuangan di Negeri Paman Sam menunjukkan tren memburuk.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, mata uang Garuda ditransaksikan makin merosot ke level Rp16.855 per dolar AS. Kondisi ini tergolong anomali mengingat memburuknya indikator keuangan di AS yang biasanya memberi tekanan pada greenback dan menjadi sentimen positif bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Pelaku pasar tampaknya masih bersikap konservatif di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," ujar Gunawan Benjamin, Ekonom Universitas Islam sumatera Utara (UISU), di Medan.
Sentimen positif dari memburuknya sejumlah indikator keuangan AS seharusnya menjadi pemicu potensi penguatan rupiah. Ditambah dengan penurunan harga minyak mentah dunia yang turut mendorong penguatan pada pasar keuangan secara keseluruhan.
Di sisi lain, pasar modal dalam negeri justru menunjukkan daya tahan yang lebih baik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,41% di level 7.440,913 meski sempat mengalami perlambatan setelah menyentuh level tertinggi di 7.499.
Laju IHSG ini selaras dengan kinerja mayoritas bursa saham di Asia yang bergerak di zona hijau. Sektor energi dan pertambangan menjadi motor utama penguatan IHSG.
Emiten seperti BUMI, ANTM, ENRG, hingga MEDC tercatat menguat tajam, didorong oleh kenaikan harga batubara. Harga minyak mentah mulai melandai dan membantu pasar keuangan setelah sebelumnya sempat memberi tekanan signifikan pada bursa saham.
Berbeda dengan aset keuangan lain, harga emas dunia melanjutkan tren kenaikan yang agresif. Emas kini ditransaksikan di kisaran US$5.185 per ons troy atau setara dengan Rp2,82 juta per gram.
Gunawan melihat lonjakan harga emas dipicu oleh tensi geopolitik setelah Presiden AS menyatakan niat untuk mengakhiri perang di Iran. Namun direspon dengan pernyataan dari pihak Iran bahwa mereka yang akan menentukan akhir dari konflik tersebut.
Kombinasi ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas ini diperkirakan Gunawan masih akan membayangi pergerakan rupiah dan pasar domestik.
