Ilustrasi.
ANTARAsatu.com MEDAN - Lantai bursa dan pasar valuta asing Indonesia masih berada dalam situasi anomali. Di saat sejumlah indikator keuangan Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan kelesuan yang seharusnya menekan indeks dolar (DXY), mata uang Garuda justru gagal terbang tinggi.
Pada penutupan perdagangan Rabu (11/3), Rupiah masih tertahan di level 16.865 per dolar AS, angka yang mulai mendekati batas psikologis yang mengkhawatirkan. Kondisi ini memicu pertanyaan besar, sejauh mana efektivitas intervensi Bank Indonesia (BI) di tengah gempuran ketidakpastian global?
Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai posisi Rupiah saat ini mencerminkan tekanan eksternal yang jauh lebih kompleks dari sekadar angka inflasi AS. Menurutnya, meskipun tekanan dolar AS sempat memberi "ruang napas" tipis bagi mata uang regional, Rupiah belum mampu memanfaatkannya untuk reli penguatan yang signifikan.
"Rupiah saat ini sedang berada dalam tekanan ganda. Di satu sisi, kita melihat adanya intervensi nyata dari Bank Indonesia untuk menahan volatilitas agar tidak menembus level 17.000. Namun di sisi lain, sentimen pasar terhadap aset berisiko di negara berkembang masih cenderung dingin," katanya, di Medan.
Pelemahan Rupiah ke level 16.865 terjadi meskipun BI diyakini telah melakukan berbagai upaya. Mulai dari intervensi di pasar spot hingga pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Namun Gunawan mengingatkan, ketergantungan pada intervensi pasar memiliki batas yang sangat ditentukan oleh ketahanan cadangan devisa.
"Kita sedang menguji napas cadangan devisa kita. Intervensi adalah obat jangka pendek untuk menstabilkan psikologi pasar. Namun jika fundamental ekspor kita terganggu akibat penurunan harga komoditas seperti minyak mentah dan pelemahan emiten energi, maka tekanan terhadap Rupiah akan jauh lebih persisten," tambahnya.
Tekanan pada Rupiah tidak lepas dari rontoknya harga minyak mentah dunia ke kisaran $88 per barel (WTI) dan $92 per barel (Brent). Penurunan ini menyeret kinerja emiten sektor energi dan pertambangan di IHSG.
Yang pada gilirannya memicu kekhawatiran investor asing terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik. Selain itu, pelaku pasar kini tengah dalam posisi wait and see menanti rilis data inflasi AS terbaru.
Data ini akan menjadi penentu apakah bank sentral AS, The Fed, akan melunakkan kebijakan moneternya atau justru tetap hawkish. Eskalasi agresi AS-Israel ke Iran memang belum memberikan guncangan drastis pada pasar uang saat ini, tetapi ketidakpastian itu tetap ada di latar belakang.
Fokus utama pasar, menurut Gunawan, tetap pada inflasi AS. Jika inflasi di sana tetap membandel, intervensi sekuat apa pun dari BI akan sangat berat untuk membalikkan arah Rupiah ke level di bawah 16.500.
Adapun level 16.865 per dolar AS, lanjut Gunawan, bukan sekadar angka di papan perdagangan. Bagi pelaku industri yang bergantung pada bahan baku impor, level ini mulai memberi tekanan pada biaya produksi.
Tanpa adanya katalis positif dari dalam negeri, seperti perbaikan kinerja ekspor komoditas, Rupiah diprediksi akan terus menguji ketahanan di kisaran angka tersebut.
Bank Indonesia kini dihadapkan pada pilihan sulit. Terus membakar cadangan devisa untuk menjaga stabilitas jangka pendek, atau membiarkan mekanisme pasar bekerja dengan risiko volatilitas yang dapat mengguncang kepercayaan investor.
